Tampilkan postingan dengan label 1874 - 1878. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1874 - 1878. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Februari 2015

1874 Mesjid Gang Bengkok (Oude Missijit)





Oude Missigit (Mesjid Bengkok)
Mesjid gang bengkok didirikan oleh seorang Mayor cina Tjong A-Fie sebagai penghormatan secara langsung kepada kesultanan deli. Dengan di bangunnya mesjid ini yang tanahnya diwakafkan oleh Datuk Kesawan (H. Mohammad Ali). Setelah selesai, kepengurusan mesjid pun di berikan kepada Sultan Deli Makmun Al Rasyid yang kemudian ditabalkan pada tanggal 19 Juli 1874.

Dari segi arsitekturnya mesjid ini mempunyai keistimewaan di bandingkan dengan mesjid-mesjid lainnya sebab memakai perpaduan arsitektur Cina, Persia, Romawi dan ditambahkan ornament Melayu. Namun, dari awal pembuatannya hingga saat ini ada satu hal yang tidak di miliki mesjid lainnya yang selalu memakai ornament kaligrafi, mesjid ini tidak terdapat sedikit pun ornament kaligrafi di bagian luar maupun dalam mesjid. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah, namun yang harus menjadi apresiasi adalah perpaduan arsitektur itu yang melambangkan adanya interaksi antar kebudayaan terjadi di sana dengan damai. 

Jika dilihat sekilas memang seakan bukan bangunan mesjid karena mirip klentèng, tempat ibadah umat Khonghucu. Atapnya melengkung dan terdapat empat tiang setebal setengah meter yang menopang seluruh bangunan. Semuanya akan berubah ketika memasuki bagian dalamnya yang terdapat mimbar berbentuk bangunan tinggi terbuat dari kayu yang mempunyai tangga undakan bertingkat sebanyak 13 yang digunakan sebagai tempat khotbah sebelum sholat jum’at.

Bukan hanya mimbar, namun ada satu benda yang unik di mesjid ini yang tidak ada di mesjid lain pada era modern saat ini, dimana tedapat mimbar bilal adzan yang berkaki empat dengan panjang 2,10 meter dan lebar 1,90 meter serta tinggi 2,20 meter yang fungsi nya agar suara adzan lebih terdengar jika seorang yang mengumandangkannya dari tempat lebih tinggi. Karena saat pembangunan nya belum memakai alat pengeras suara seperti mikropon. Benda-benda itu lah yang menjadi salah satu simpanan sejarah yang masih ada sampai sekarang.

Dalam bagian utama mesjid yang berukuran 18x18 ini terdapat empat tiang penyangga dengan diameter lingkaran 2,10 dan uniknya tiang seperti ini juga terdapat di istana Tjong A Fie yang terletak di Jalan A. Yani daerah kesawan juga yang berada tidak jauh dari mesjid Lama Gang Bengkok. Oleh karena itu diperkirakan pula bahwa arsitek yang membangun Istana Tjong A, Afie, juga merupakan arsitek yang juga membangun mesjid Lama Gang Bengkok. Ruangan asli pada bagian luar dilengkapi dan di topang 16 tiang segi empat dengan lebar sisi lebih kuang 50 cm dengan tinggi 5 meter. Namun karena termakan usia hanya tiang ini lah yang masih merupakan konstruksi bangunan yang asli pada bagian dalam, sebelumnya menurut perkataan kenaziran sekarang ini, kerangka atab semuanya menggunakan kayu tetapi karena kayu mulai lapuk dan sempat ada yang roboh. Maka diganti lah kerangka atap dengan alumunium.

Tidak hanya bagian konstruksi saja, yang mengalami perbaikkan. Dinding mesjid ini pun sudah mengalami perubahan yang sangat telihat jelas. Namun pada bagian dinding atas terdapat suatu ornament bangunan yang dijaga ke asliannya sampai sekarang.

Pada bagian luar mesjid ini sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan aslinya. Perluasan ini dilakukan karena daya tampung jama’ah masjid yang memiliki bangunan utama hanya berukuran 18x18 meter ini tidak mampu menampung semakin ramainya umat muslim di sekitar kesawan. Walaupun begitu masih ada bagian asli dari bangunan ini yang tidak di hilangkan pada bagian luar, yaitu ornament lebah bergantung yang merupakan cirri khas melayu.

Satu lagi keunikkan mesjid ini adalah memiliki sumur tua yang menurut penjelasan kenaziran, air di dalamnya tidak pernah surut walaupun musim kemarau. Sumur ini lah yang digunakan para jama’ah sholat untuk ber wudhu. Berdiameter sekitar 2 meter dan terletak di bagian kamar mandi wanita.

Kenaziran ataupun kepengurusan mesjid Lama Gang Bengkok dimulai oleh seorang bernama Syekh Mohd. Yacub, yang merupakan seorang ulama Mandailing bermarga Nasution berasal dari Roburan Lombang dan tinggal di jalan mesjid sejak 24 november 1885, ialah yang mendapatkan tauliyah atau kepercayaan untuk menjadi nazir yang mengurus mesjid dari Sultan Makmun Arrasyid dan menetapkan iman Rawatib pada tanggal 30 november 1894.

Karena perpindahan Syekh Mohd. Yacub ke jalan Tilak Medan, Imam rawatib diwakilkan kepada menantunya yang bernama H. Usman Tanjung selama 1910 sampai denan 1938 yang juga bertempat itinggal di daerah kesawan. Namun karena ia hanya mewakilkan saja, tidak lama di gantikan oleh anak dari Syekh Mohd. Yacub yang bernama Abubakar Yacub yang telah belajar mendalami agama islam.

Kenaziran mesjid bengkok sampai saat ini masih terus aktif untuk mengurus mesjid bersejarah ini, yang pada saat ini kenaziran di ketuai oleh Bapak H. Saifudin Nasution, SH. Bahkan kenaziran ini memiliki perpustakaan yang membantu orang-orang untuk menambah wawasan tentang agama maupun ingin tau tentang masa lalu mesjid ini.

Jumat, 19 Desember 2014

1876 Onderneming Patoembah (Patumbak)

Rumah Tandil di Onderneming Patoembah 1885 - 1895 
Setelah konsesi Onderneming Tandjong Merawa tahun 1873 diberikan kepada Carl Fürchtegott Grob dan Hermann Näher. Pada tanggal 16 Agustus 1876, Grob dan Naher mendapatkan lagi konsesi untuk Onderneming Patoembah (Patumbak) di wilayah landschap Senembah. 
Dalam beberapa catatan kolonial juga disebutkan bahwa onderneming ini awalnya bernama Onderneming Marolan, pada tahun 1885 baru berganti nama menjadi Onderneming Patoembah (Patumbak).

Sedikit cerita tentang asal usul nama Patumbak ini dahulu kala, telah terjadi konflik antara masyarakat Melayu yang konon membuka hutan dengan masyarakat Jawa. Kepemilikan tanah waktu itu dilakukan dengan cara sederhana yaitu dengan melemparkan biji pinang sejauh mungkin. dimana pinang jatuh maka sampai disanalah batas tanah kepemilikan seseorang pada waktu itu. Konflik semakin meruncing, ketika seseorang bernama Si Gara-gara bukan melemparkan biji pinang, tapi sebuah tombak. Si Gara-gara melemparkan tombaknya sangat jauh sekali sehingga banyak masyarakat yang tidak senang akan hal itu. Konflik berlangsung cukup lama hingga suatu saat didapatkanlah sebuah kesepakatan damai. Dari hasil kesepakatan itu, maka tempat Si Gara-gara melempar tombak itu disebut dengan kampung Si Gara-gara, tempat dimana menjadi lintasan dari tombak disebut Kampung Lantasan, tempat dimana jatuhnya tombak tersebut disebut Kampung Patumbak. Serta tempat dimana dicapainya suatu mufakat disebut Timbang Deli. 
Onderneming ini dipimpin oleh administratornya E.Ruegg. Pada tahun 1881, hasil tembakau yang diperoleh sebesar 235.746 (in Amst.ponden). Jumlah kuli  tetap sebanyak 375 orang.

Pada tahun 1885, Administratornya dipimpin oleh Ruegg dan A.Tobler. Luas tanah konsesi yang diberikan seluas 1700 in bouws. hasil tembakau yang diperoleh sebanyak 437 800 (In Ams.ponden) dengan kuli tetap sebanyak 406 orang dan 31 orang tidak tetap.

Pada tahun 1886, E.Ruegg pensiun dan administrator langsung dipegang A.Tobler. Hasil yang diperoleh menurun mencapai 300.000 (in Amst.ponden) dengan jumlah kuli tetap juga menurun menjadi 395 orang dan 60 orang yang tidak tetap. 


Villa Patumbah 1889
Dari hasil perkebunan di Sumatera membuat Grob menjadi orang yang kaya raya. Pada tahun 1883 hingga 1885, Grob mendapat tanah di Zollikerstrasse 128 di Zurich dengan luas 13.000m2. Dia mempercayakan kepada Chiodera dan Tschudy untuk membangun sebuah villa yang megah ala Renaissance dengan taman yang lengkap, Dan air mancurnya pada waktu itu dipercayakannya kepada Evariste Mertens. Villa ini diberinama Patumbah. Bahkan pada tahun 2006 dibentuklah Yayasan Patumbah yang gunanya untuk melestarikan dan menjaga keindahan taman dari villa ini. Untuk info villa ini sekarang lihat disini.

Pada tahun 1891, Onderneming ini masuk dalam grup Senembah Maatschappij dengan luas tanah konsesi sebesar 3436 in bouws dengan 225 bidang yang sudah ditanami. Tercatat sebagai kontrak Serdang no. 21 yang berakhir pada tanggal 11 Januari 1950. Pada masa ini diangkatlah J.H.E. De Voogt sebagai Administrator. Jumlah kuli kontrak terdiri dari China 410 orang, Java 95 orang, Keling 45 orang dan Bawean 20 orang. Sementara Kuli tetap dari suku Batak terdiri dari 46 Orang. Di tahun ini pada tanaman tembakau pertama tidak menghasilkan daun yang baik, tapi cukup berpuas hati. Tanaman Padi mendapat hasil yang lumayan. Pada tahun ini de Voogt dapat menghasilkan 480 000 in Amst. ponden. 
Pada tahun 1892, Luas bidang tanaman meningkat mencapai 299 bidang. Jumlah kuli kontrak China sebanyak 402, Java 98 orang dan Keling 471 orang serta Bawean 2 orang. Kuli Batak 128 orang. Hasil pada tahun ini sebanyak 462 100 in. Ams ponden.
Pada tahun 1896, de Voogt digantikan dengan H.Klein sebagai administrator. Luas tanah yang sudah digarap sebesar 305 dari 6700 bidang dengan hasil sebesat 3500 pikol. Jumlah kuli China 425 orang, Jawa 65, Klings 35 dan Bawean 18 orang. Sedang kuli lokal Bandjar 19 orang, Batak 50 dan Melayu 25 orang.

Rumah Administrator Patumbak 1903

Pada tahun 1906, jumlah tanah yang sudah digarap seluas 311 dari 7200 bidang. Hasil yang diperoleh pada saat itu sebesar 3100 pikol dengan jumlah kuli kontrak sebanyak 672 dan kuli tetap lokal sebanyak 50 orang.

Ruangan fermentasi di Perkebunan Patumbak 1903

Emplesmen Patumbak 1903

Pada tahun 1919, Onderneming Patoembak bergabung dengan Namusuru. Onderneming ini menjadi Patoembak Namoesoeroe. Luas hamparan tanah di akhir tahun seluas 10.653 bidang. Dengan hasil sebesar 6149 pikols serta 1006 jumlah kuli.





Senin, 13 Mei 2013

1878 Onderneming Amplas

Rumah Administrator Onderneming Amplas 1897

J. Huber mendapat konsesi tanah  tanggal 01 September 1878 dengan luas 2415 bidang tanah di Amplas, landskep Senembah afdeling Deli. Kontrak ini berakhir pada 01 September 1945.

Gambar udara Onderneming Amplas 1925
Pada tahun 1885, Kebun Amplas ini dipegang oleh Administrator tuan J.P. Van Gilse van der Pals. Pada tahun ini hasil dari perkebunan ini mencapai Fl.399.050 dengan 490 orang kuli kontrak dan 80 orang kuli lokal.

Pada tahun 1888, tuan Gilse digantikan oleh D.Huber sebagai administrator. Pada tahun ini hasil kebun Amplas mencapai Fl.371.250 dengan 652 orang kuli kontrak dan 25 orang kuli lokal. 

Pada catatan Kolonial tahun 1889, Perkebunan ini menghasilkan tembakau Fl.408.000 dengan jumlah 
R.G.Ten Seithoff 
kuli kontraknya sebanyak 585 dan kuli lokalnya sebanyak 40 orang. Tapi sayang pada tahun 1890, Perkebunan Amplas mengalami kebangkrutan, sehingga onderneming ini diambil alih oleh Amsterdam Deli Company. Amsterdam Deli Company mendapat kontrak konsesi no.12 yang dikeluarkan pada tanggal 03 Februari 1891 dan berakhir 03 Februari 1951. 

Pada catatan tahun 1891, sudah 368m2 lahan yang telah digarap. Hasil yang diperoleh tahun itu sebesar Fl.486.700. Kuli kontrak pada tahun itu terdiri dari Cina sebanyak 600 orang, Jawa 90 orang, Keling 80 orang dan Bawean 50 orang. Sedang kuli lokalnya terdiri dari Batak 20 orang dan Bandjar 5 orang. Amsterdam Deli Company mempercayakan R.G.Ten Seithoff sebagai administrator perkebunan Amplas ini.

Pada tahun 1896, Seithoff digantikan oleh J.S.E.Kastelijn. Pada masa beliau hasil yang diperoleh sebanyak 2831 pikol tembakau. Kuli Cina berkurang menjadi 440 orang, Jawa 262 orang dan  Kling 42. Sementara kuli lokal tidak ada yang mau bekerja lagi di perkebunan-perkebunan milik Belanda. 

Memasuki tahun 1900, hasil yang diperoleh sebanyak 2820 pikol dengan 782 jumlah kuli kontrak. Pada tahun 1910, Perkebunan ini masuk dalam afdeling Deli dan Serdang.

Barak Kuli kontrak cina 


Para Planter Onderneming Amplas 1925

Jumat, 19 April 2013

1875 Onderneming Bandar Klippa (Timbang Deli)

Rumah Administrator Afdeling Bandar Klippa 1895 

Peta Onderneming Bandar Klippa
Pada tanggal 11 Januari 1871, dibukalah perkebunan Timbang Deli oleh Deli Maatschappij dengan administratornya H.Hermann di Landskep Senembah. Dan Pada tahun 1883, Tuan Hermann digantikan oleh Van P.Kolff. Budi daya kebun Timbang Deli ini adalah Tembakau dan Coklat.

Menurut catatan tentang Perkebunan Timbang Deli ini, ada 2 lahan kepemilikan yang dalam catatan kolonial bernama Timbang Deli. Yang satu berada di Landskep Senembah milik Deli Mij dan satu lagi milik M.N.Elwin yang berada di landskep Serdang, afdeling Serdang.

Perkebunan Timbang Deli milik Deli Mij ini tak terlalu lama bertahan. Sehingga pada tanggal 18 Mei 1875, Deli Maatschappij membuka lagi perkebunan di Bandar Klippa (Bandar Kalipah) dengan luas 2000 bidang. J.B.Droste diangkat sebagai administrator pertama perkebunan ini oleh Deli Mij. Awalnya Perkebunan ini berada dilandskep Pertjoet (Percut). Pada tahun 1881, kebun ini mempekerjakan 344 orang kuli kontrak dengan hasil pada tahun itu sebanyak Fl.224.750.

Pada tahun 1888, J.B.Droste digantikan oleh H.C.M.Brouwer Ancker sebagai administrator. Photo  Rumah administrator diatas adalah rumah tuan P.Kolff yang direnovasi kembali pada tanggal  2 Oktober 1888 oleh Brouwer Ancher yang menjadi administrator Bandar Klippa pada saat itu. Pada masa tuan Brouwer inilah jumlah lahan meningkat menjadi 3000 bidang. Hasil yang diperoleh pada masa itu sebesar Fl.483.688 dengan jumlah kuli kontrak sebanyak 724 orang dan 200 orang kuli lokal.

Jembatan Sungai Percut yang menghubungkan
Perkebunan Bandar Klippa di Kampung Tembung 1888 

Pada tahun 1905, Deli Maatschappij menyatukan perkebunan Timbang Deli dan Perkebunan Bandar Kalipah dengan luas tanah konsesi sebesar 5000 bidang tanah. Pada masa ini sudah 410m2 lahan dari 6000m2 lahan yang telah digarap. Hasil yang diperoleh sebanyak 3580 pikol dengan jumlah kuli kontrak sebanyak 913 orang dan 139 orang kuli lokal.


Para Planter Bandar Klippa berpose 1888
Pada catatan Koloniaal verslag 1909, Perkebunan ini mendapat tanah konsesi sebesar 5000 bidang. 410m2 bidang dari 6000m2 yang baru tergarap. 
Dengan jumlah kuli kontrak sebanyak 1043 orang dan kuli tetap sebanyak 83 orang. Pada tahun 1909 ini, hasil tembakau yang diperoleh sebanyak 4546 pikol.


Kuli-kuli cina sedang menyortir tembakau di ruang Fermentasi
afdeling Bandar Klippa yang diawasi oleh tuan-tuan Belanda  1894


1878 Onderneming Tandjong Djati Langkat

Rumah Administrator Afdeling Tandjong Djati Langkat 1895
Dari wilayah Deli, Deli Maatschappij pun melebarkan sayap perkebunannya ke Langkat. Dengan mendapatkan konsesi tanah dari Sultan Langkat, Tuan Cremer pun membuka Onderneming Tandjong Djati di afdeling Langkat.

Dalam catatan Koloniaal verslag 1909, Onderneming ini mendapat 3500 bidang tanah, hanya 400m2 dari 6000m2 yang telah digarap pada tahun itu. tercatat jumlah kuli kontrak sebesar 1097 orang dan kuli tetap sebanyak 72 orang. Pada tahun itu hasil yang diperoleh sebesar 3677 pikol tembakau.


Gudang Fermentasi & rumah Asisten di afdeling Tandjong Djati 1905

Jalan di afdeling Tandjong Djati 1905

Kamis, 18 April 2013

1874 Onderneming Timbang Langkat

Rumah Administrator Timbang Langkat

Peta Onderneming Timbang Langkat
Selain membuka Afdeling Gedong Johore, Deli-Batavia Maatschappij juga membuka afdeling 
perkebunan Timbang Langkat di landskep Serbanjaman, Afdeling Deli. Deli Batavia mendapat tanah konsesi pada tanggal 29 Desember 1874 dengan luas 500 bidang. Kalau dilihat Onderneming ini tentunya masuk wilayah Bindjei dengan berbatas pada onderneming Diski, Rotterdam A dan B, Seongai Mentjirim dan kwala Mentjirim. 

Di perkebunann inilah terdapat stasiun kereta api Timbang Langkat yang memisahkan antara jalur ke Poengei dan Tandjong Djati.

Pada catatan tahun 1881, Onderneming ini dipimpin oleh administrator C.C.F Hirschamann. Hasil yang diperoleh pada tahun itu mencapai Fl. 438.125 dengan jumlah kuli kontrak sebanyak 586 orang dan 74 orang kuli lokal.

Pada tahun 1885, Timbang Langkat mendapat penambahan tanah konsesi menjadi 3000 bidang. Pada tahun ini administrator dipimpin oleh L.van Pollanen Petel, tapi hanya setahun dipegang oleh Pollanen, onderneming ini kembali dipimpin oleh Hirschmann pada tahun 1886. Hasil yang diperoleh pada tahun ini mencapai Fl.439.875 dengan 580 orang jumlah kuli kontrak dan 80 orang kuli lokal.

Pada tahun 1888, pemerintahan Hinda Belanda melakukan perubahan wilayah sehingga Onderneming Timbang Langkat masuk dalam Landskep XII Kotta, tetapi pada tahun 1889 kembali lagi masuk ke landskep Serbanjaman, Afdeling Deli.

Pemondokan Kuli Jawa di Afdeling Timbang Langkat

Pada tahun 1891, Timbang Langkat dipimpin oleh administrator C.A.Stoffers. Tercatat pada tahun ini jumlah kontrak konsesi lahan menjadi 2000 bidang. Kontrak diperbaharuin sehingga akhir kontrak jatuh pada tanggal 18 Mei 1950. Hasil yang diperoleh pada tahun ini mencapai Fl.761.875 dengan jumlah kuli kontrak Cina sebanyak 851 orang dan Jawa 289 orang, sedangkan kuli lokalnya terdiri dari Jawa 11 orang dan Bandjar 50 orang.




Pemondokan Kuli Cina di Afdeling Timbang Langkat
Pada tahun 1900, sudah 376m2 dari 8000m2 lahan yang telah digarap. hasil yang diperoleh pada tahun ini mencapai 3698 pikol tembakau dengan 811 orang kuli kontrak.

Ruang penyortiran daun tembakau

Pada tahun 1909, onderneming ini masuk sebagai wilayah Afdeling langkat, dengan tanah konsesi sebesar 2625 bidang, dengan 363m2 dari 6700m2 yang telah tergarap. Pada tahun ini jumlah kuli yang dikontrak sebanyak 795 orang dan kuli tetap sebanyak 38 orang. Hasil yang diperoleh pada tahun itu sebanyak 4308 pikol tembakau.

Pada tahun 1915, Onderneming Timbang Langkat masuk ke wilayah Afdeling Deli & Serdang. 

Sabtu, 13 April 2013

1875 Koin Bagerpang Serdang

Koin Perkebunan Bager Pang

Bagerpang Estate adalah perkebunan yang berada di Bangun Purba dalam wilayah Serdang.

Jumat, 12 April 2013

1874 Koin Perkebunan Tjinta Radja Langkat


Famili Koin Perkebunan Tjinta Radja



Perkebunan Tembakau Tjinta Raja Estate, berdekatan dengan Kampung Iney, terletak di Sumatra Timur, Divisi Deli, Langkat Beneden, di wilayah Stabat-Langkat, "9 tiang" atau sekitar 15 km dari Stabat dan trem berhenti "4 tiang" dari Tandjoeng Poera. 

Periode mengeluarkan token: 1876 - 1883 ca. Koin perkebunan ini terdiri dari:
  1. Koin 10 cent, terbuat dari red copper, 24mm
  2. Koin 20 cent, terbuat dari kuningan, 27mm



Pembukaan Onderneming Tjinta Radja
Langkat Beneden 1875-1885

Pemilahan daun tembakau
di Gudang Ondernaming Tjinta Radja

Rabu, 10 April 2013

1876 Koin Onderneming Tanah Raja

Famili koin Onderneming Tanah Raja


Perkebunan tembakau ini terletak di pantai timur Sumatera, wilayah Asahan - Kisaran, sekitar 100 km stasiun Bamban dan sekitar 40 km dari Tandjong Balei, terletak di sungai Silau. 

Periode mengeluarkan token: 1876 - 1898 ca. Koin ondernaming Tanah Raja terdiri atas: 
  1. Koin $ 1, 1876, petak
  2. Koin $ 1, 1890, cupro-nickel with 3 pin holes, 36 x 65 mm.
  3. Koin 1/2 dollar, 1890, cupro-nickel 33 x 60 mm. 
  4. Koin 1/2 dollar 1890, cupro-nickel with manual piercing, 33 x 60 mm. 
  5. Koin 20 cents 1890, cupro-nickel 26 x 48 mm. 

Kamis, 21 Maret 2013

1878 Deli Planters Vereniging (DVP)

Kantor Deli Planters Vereniging 
Untuk mengatur dan melaksanakan segala ketentuan dalam usaha perkebunan maka pada tahun 1879 dibentuk Deli Planters Vereeniging (DPV, Perhimpunan Tuan Kebun Deli). Masalah tanaga kerja merupakan sebab yang langsung dan pokok dari lahirnya persatuan kum majikan itu. Pemimpin perhimpunan dipercayakan kepada satu komite, komite tuan kebun, yang semula terdiri atas tiga serangkai dan selama beberapa tahun diketuai oleh Cremer.

Kamis, 28 Februari 2013

1876 Asisten Residen Deli dibagi menjadi 2 Onderafdeling

Labuhan Deli

Semakin majunya keresidenan Sumatra Timur dengan ibukotanya Bengkalis, dan semakin menjamurnya pertumbuhan perkebunan-perkebunan maskapai swatsa di Deli, maka asisten residen melalui Staatsblaad No.103/1876 dibagi menjadi 2 Onderafdeeling dibawah seorang asisten residen,yaitu:
  1. Onderafdeeling Deli dan Serdang  dipimpin oleh seorang kontrolir yang beribukota di Labuhan Deli
  2. Labuhan Deli 1876
  3. Onderafdeeling Langkat dan Tamiang. dipimpin oleh seorang kontrolir yang beribukota di Tanjung Pura.

1876 Aeliko Janszoon Zijlker menemukan Telaga Said

Aeliko Janszoon Zijlker


Sabtu, 23 Februari 2013

1875 Perkebunan Arendsburg Soengai Bras

Perkebunan Arensburg - Soengai Bras

Perusahaan Perkebunan Swasta Tabak Maatschappij Arendsburg membuka perkebunan tembakaunya di daerah Soengai Bras pada tahun 1875.

Mulai bertumbuhanlah perkebunan-perkebunan di Deli. Dari tahun 1873 saja hingga 1875 sudah tercatat ada 15 onderneming, 13 ondernaming di Deli dan 1 onderneming di Langkat dan Serdang.


D. Haagmans Kepala Administrator
Perkebunan Arendsburg 1887 - 1891
Gudang fermentasi Tembakau di Perkebunan Arendsburg Sungai Mencirim



Jumat, 22 Februari 2013

1874 Perkebunan Helvetia

Rumah Adminitrator Perkebunan Helvetia 1876

Perkebunan yang pertama sekali dibuka oleh J.Neinhuys adalah Perkebunan Tanjung Sepassai Labuhan Deli. Ini photo tahun 1876, rumah Administrator Perkebunan Helvetia, Landskep Soeka Piring, Afdeeling Deli.

Menurut catatan Tuanku Luckman Sinar, ketika hendak dibuka kontrak pertama kebun tembakau 2000 bahu oleh Nienhuys 08 April 1867, dekat Tanjung Sepasai (Titipan) ada kuburan keramat besar kota Bangun. Menurut ahli sejarah Mohammad Said, kuburan itu masih ada dan dapat dilihat sampai sekarang.

Rumah A. Breaker tahun 1830 di perkebunan Helvetia

"Helvetia" adalah nama Latin untuk negara Swiss. Tahun 1865 dua pemilik perkebunan asal Swiss, Mots dan Breaker mendirikan perkebunan tembakau di Deli (daerah sekitar Medan kini) bernama Konigsgrätz, yang namanya kemudian diubah menjadi Helvetia. Nama hingga kini masih tetap bertahan dan digunakan sebagai nama kecamatan ini.

Konsesi nomor 3 tanggal 18 Oktober 1874 barulah dikeluarkan untuk perkebunan ini dan berakhir tanggal 15 Oktober 1957. Helvetia mendapat 3900 bahu tanah dengan budi daya Tembakau dan Pala.


Rumah Administrator Perkebunan Helvetia 1885
Pada catatan kolonial versalg 1881, administrator Onderneming Helvetia ini adalah T.W.Jambroes Wortmann dan hasil yang diperoleh pada tahun itu sebanyak Fl.209.461. Jumlah Kuli kontrak sebanyak 295 orang.

Pada catatan tahun 1891, Onderneming ini di beli seseorang berkebangsaan Jerman, yaitu: A.H Baron von Horn von der Horck dengan administratornya A.J.Rose. Hasil yang diperoleh pada waktu itu sebanyak Fl.822.400 dengan jumlah kuli China 585 orang, Jawa 169 orang, Klings 1 orang dan Bawean 90 orang.

Kantor Administrator Handels en Cultuurmaatschappij Helvetia
Deli Maatschappij  1905
Tapi sayang Baron tidak dapat lebih lama lagi menjalankan onderneming ini. Pada sekitar akhir 1899, Baron mengadakan perjanjian rahasia kepada Raja Siantar. Yang mana dalam perjanjian itu, Raja Siantar meminta kepada Baron untuk mendatangkan pasukan Jerman guna mengusir Belanda dari Siantar. Upahnya adalah Raja Siantar akan memberikan tanah kepada Baron untuk dijadikan perkebunan. Tapi sayang hal itu cepat tercium oleh Belanda, akhirnya Baron pun diusir dari Sumatra Timur.

Pada Catatan Kolonial 1900, Onderneming Helvetia ini sudah menjadi Milik kongsian antara Deli Maatschappij dan Handels en Cultuurmatschappij Helvetia. Pada awal tahun ini jumlah lahan konsesi Helvetia menjadi 3900 bidang dengan 512m2 dari 6000m2 lahan yang telah digarap. Hasil yang diperoleh sebanyak 4950 pikol. Jumlah kuli kontrak meningkat menjadi 848 orang terdiri dari Cina: 424 orang, Jawa: 128 orang, Kling: 32orang dan Bawean 13 orang. Sedangkan kuli lokalnya menurut catatan kolonial tahun 1896 terdiri dari Batak 48 orang dan Melayu 10 orang.

Para ondernemer dan Administrator Onderneming Helvetia


TahunOndernemerAdministrator
1874Erven A. BrekerF.W.J. Van Bemmel Wortman
1889Erven A. BrekerA.T.Kamstrup
1891A.H. Baron von Horn von der HorckA.J. Rose
1893Deli Maatschappij-
1896Deli MaatschappijE.C.Haitink

1875 Tjong A Fie Sampai di Deli

Tjong A Fie (1860-1921) adalah seorang pengusaha, bankir dan kapitan yang berasal dari Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera. Tjong A Fie dilahirkan dengan nama Tjong Fung Nam (orang Hakka), di Sungkow, Meixian, Guangdong, (Tiongkok) pada tahun 1860.
Walaupun hanya mendapatkan pendidikan seadanya, tetapi Tjong A Fie sangat cerdas dan menguasai cara-cara berdagang sehingga usaha keluarganya cukup sukses. 
Pada tahun 1875 Tjong A Fie berangkat ke Deli untuk mengadu nasib. Saat itu ia baru berusia 18 tahun. Dengan berbekal sedikit uang, ia menyusul kakaknya Tjong Yong Hian yang sudah tinggal di Deli selama 5 Tahun. 
Ia dikenal sangat pandal bergaul, tidak hanya dengan orang Tionghoa, namun juga dengan warga Melayu, Arab, India, dan orang Belanda. Ia mulai belajar berbicara dengan bahasa Melayu yang menjadi bahasa perantara masyarakat di tanah Deli.

Dalam kesuksesannya, Tjong A Fie ikut berjasa dalam usaha mengembangkan kota Medan. Di sekitar tahun 1900 menurut beberapa sumbur, Tjong A Fie memiliki kira kira 75% dari perumahan yang tumbuh pesat di kota Medan. Hampir seluruh kota Tebing Tinggi yang baru di bangun adalah milik Tjong A Fie. (SP 13-9-1916; Deli Courant (DC) 4-2-1921; Kühr 1921: 3-5; De Bruin 1918: 45, 109, 111; Bool 1903: 6; Buiskool 1999: 23-28, 32, 68, 74, 76).

Sampai di tahun 1918 pemerintah Hindia Belanda menjual monopoli kepada orang orang yang menawar paling tinggi. Kebanyakan kepada orang Tionghoa pengusaha kaya.

Tjong A Fie mendapatkan monopoli opium yang membawa banyak keuntungan. Sebagai opsir Tionghoa mereka tahu sebelumnya rencana tentang pengembangan kota Medan. Dan mereka membeli tanah dan membangun ruko ruko ala Tionghoa.

1874 Pembangunan Titi Suka Mulya dan Kampung Benteng

Setelah terjadinya perang Sunggal, Sultan dan Belanda merasa perlu dibangun pertahanan yang kuat atas ancaman baik dari luar maupun dari dalam wilayah kekuasaan kesultanan Deli. Dipersimpangan antara pertemuan dua sungai Babura dan Deli dibangunlah benteng-benteng yang gunanya untuk asrama belanda dan pergudangan persenjataan. 

Untuk menuju ke benteng-benteng tersebut, Belanda membangun pertama sekali sebuah titi yang sekarang sering disebut titi SUKA MULYA tepatnya sekarang titi tersebut berada di Jalan Palang Merah Medan.

Peta Titi Soeka Moelya


Benteng Belanda
Bangunan benteng dengan bagian depan menghadap ke jembatan Jalan Raden Saleh (sekarang menjadi bagian dari pasar swalayan Grand Palladium).Terakhir bangunan benteng ini dikelola bagian Peralatan Daerah Militer (Paldam) Bukit Barisan hingga tahun 1960-an. Sedangkan di tapak tanah Balaikota Medan sekarang, dulunya merupakan gedung Dinas Kesehatan Daerah Militer (Diskesdam) Bukit Barisan. Sementara di bagian belakangnya, hingga ke pinggiran delta dua aliran sungai kompleks perumahan perwira menengah (Pamen).

Markas Belanda 1885

Pada bagian dalam bangunan benteng (loji) (sekarang bangunan Wisma Benteng) sebagai pengganti Balai Prajurit yang sekarang Bank Central Asia (BCA) di Jalan Bukit Barisan depan Kantor Pos Besar Medan mengarah ke stasiun. Sedangkan di bagian dalam benteng dulunya menjadi komunitas hunian warga Maluku asal Ambon yang diduga sebelumnya mereka anggota KNIL Belanda.

Officer Belanda 1893
Itu sebabnya, di sekitar Lapangan Benteng hingga akhir tahun 1960-an merupakan komunitas militer. Di sudut Jalan Kejaksaan dan Jalan Maulana Lubis pernah menjadi markas Corps Polisi Militer (CPM) yang kemudian pindah ke Jalan Jenderal Soeprapto. Pada bagian belakangnya terdapat kantor Komando Distrik Militer (Kodim) yang semula adalah Pusat Pendidikan Administrasi dari Korps Keuangan Dam Bukit Barisan.

Peta Militair Kamp Medan 1895
Sebelumnya Kodim berada di bagian depan Perguruan Immanuel sekarang, Jalan Imam Bonjol – Jalan Jenderal Soeprapto–Jalan Cut Nyak Dhien. Sedangkan Pusat Pendidikan Administrasi dari Korps Keuangan Dam Bukit Barisan sebelumnya menempati gedung yang kemudian menjadi Sekolah Hakim dan Jaksa (SHD), Jalan Imam Bonjol dan kini menjadi bagian lapangan parkir dari Hotel Danau Toba International (HDTI).

Rumah Komandan Militer 1880
Pada areal bangunan benteng mau pun Lapangan Benteng, jelas merupakan kompleks militer peninggalan Belanda, tidak terkecuali di tapak tanah gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara, dulunya merupakan asrama prajurit dan beberapa rumah gedung di sebelah kirinya, dihuni perwira komandannya.

Begitu juga dengan barisan rumah toko (Ruko) di Jalan Raden Saleh, sebelumnya merupakan bangunan rumah terbuat dari kayu/papan, di kiri/kanan dan depan bangunan dikelilingi halaman yang luas. Bangunan rumah tersebut, merupakan hunian perwira Kodam Bukit Barisan.

Kondisi Kampung Benteng

Terdapat ruas jalan dari Jalan Raden Saleh menuju ke ruas Jalan Ahmad Yani VII, sebelumnya Jalan Kebudayaan, yakni Jalan Mayor yang merupakan jenjang kepangkatan disandang Tjong A Fie warga turunan Tionghoa yang dipercaya Belanda menjadi pimpinan etnisnya. Jenjang kepangkatan Tjong A Fie bermula dengan Jalan Letnan (sekarang Jalan Bandung) di kawasan Pecinan (China Town) dan Jalan Kapten, berganti nama menjadi Jalan Pandu dan terakhir Jalan Hj. Ani Idrus.

Dipercaya, pemerintahan Hindia Belanda dengan andalan kekuatan militer, terpusat di seputar Jalan Diponegoro, sebelumnya bernama Jalan Yogya dan sewaktu zaman Belanda dinamakan “Manggaland Straat”, karena di sepanjang jalan tersebut tumbuh subur dan berbuah mangga. Kemudian Jalan Imam Bonjol, dulunya Jalan Jakarta.Di seberang jalan bangunan benteng arah ke Petisah, dihubungkan dengan jembatan lengkung yang unik dan khas, memasuki Jalan Gatot Subroto dan persimpangan Jalan S. Parman, dulunya terdapat pasar kecil yang dinamakan “Pajak Bundar”, karena bentuknya memang bundar dan kini menjadi taman bunga dan air mancur serta dihiasi patung Guru Patimpus sebagai pendiri “Kampung Medan”.

Translate