Tampilkan postingan dengan label 1893 - 1896. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1893 - 1896. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Februari 2015

1897 - 1924 Uang kertas seri Coen Mercurius

300 Gulden Coen-Mercurius
Bentuknya besar dan memiliki tepi yang tidak rata, bergambar JP Coen di kanan dan patung Mercurius di kiri, terdiri dari pecahan 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden. Juga terdapat dalam bentuk beredar dan specimen.

Uang ini sering disebut juga dengan uang Coen Tongkat.

1895 Mansion Tjong A Fie dibangun

Tjong A Fie Mansion
Setelah serta merta kota Medan disulap menjadi kota kecil di tahun 1895 ini. beberapa bangunan mulai dibangun. Ada Lapangan Esplanade, Statsiun, Hotel dan barak-barak militer didaerah kampung keling sekarang. Tjong A Fie pun tak mau ketinggalan. Dia pun menempati tanah yang hampir 6000m2 menjadi mansionnya.

Bangunan bertingkat dengan 40 ruangan ini dibangun dengan gaya campuran China-Tiongkok, Arab Melayu Deli serta Eropa. 

Rumah besar (mansion) yang dibangun pada 1895 dan rampung pada 1900 ini memang unik dan mempesona. Wajar kalau Mansion ini sampai sekarang tetap menjadi lambang bahwa begitu besarnya pengaruh Tjong A Fie bagi kemakmuran Kota Medan.

Jumat, 13 Februari 2015

1893 Kontrolir di Damak Jambu (Serdang)

Tuan Sumayan
Ketika Belanda hendak memasuki wilayah Batak Timur (Simalungun) mereka menyadari bahwa satu satu nya Raja Simalungun yang paling keras menentang masuknya Belanda ke Simalungun adalah Tuan Rondahaim Garingging.

Oleh sebab itu pada tahun 1870, pasukan Belanda menggempur pasukan berkuda dari kerajaan Raya di dekat Tebing Tinggi dan sekitarnya. Dalam pertempuran itu sekitar 8000 orang pasukan Raya (orang Batak Timur) menunjukkan perlawanan yang sangat gigih di bawah pimpinan Raja Goraha Gaim, Tuan Angga dan Tuan Pagar Gunung. Oleh karena itu selama bulan Mei sampai Nopember 1872, pemerintah Hindia Belanda mengirim kembali ekspedis militer nya untuk menumpas perlawanan Tuan Rondahaim Garingging yang mereka namai “perang batak”. Dari penyebutan nama “perang Batak” sesungguhnya secara militer Belanda sudah memasukkan perang dengan Tuan Rondahaim Garingging sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan perlawanan rakyat sunggal di bawah pimpinan Datuk Kecil bermarga Surbakti yang terjadi pada bulan Mei 1872, oleh Belanda di sebut “Batak Oorlog”. 

Berdasarkan kesamaan waktu kejadian, bisa ditafsirkan bahwa Tuan Rondahaim sudah sangat mengamati secara serius perkembangan yang terjadi di Sumatera Timur, khusus nya perluasan kekuasaan Belanda dan perusahaan perkebunan di wilayah pantai timur. Dari analisis nya ini beliau yakin hanya tinggal menunggu waktu saja Belanda akan menyerbu simalungun. Oleh karena itu tidak lama setelah menjadi Raja Raya tahun 1848, beliau membangun sebuah pasukan bersenjata yang kuat, senjata di dapat melalui barter hasil bumi dengan pedagang asing di pantai timur Sumatera. Beliau juga memerintahkan pembuatan mesiu dan senjata tradisional seperti tombak, pedang dll.

Di setiap kampung berbatasan dengan Deli dan Serdang sudah ditempatkan pasukan yang sewaktu-waktu dapat dikerahkan untuk berperang oleh Rondahaim Garingging dari pusat kekuasaannya di Buntu Raya. Pada bulan September 1885, Padang dan tempat tempat lainnya di serang dan diduduki oleh pasukan Rondahaim Garingging. Sultan Deli terpaksa melepaskan daerah Padang. Sultan Deli berusaha membujuk orang orang Batak lainnya untuk melancarkan serangan balasan, tetapi dilarang oleh Residen Sumatera Timur. Kontrolir Serdang yang membawahi daerah Padang juga berusaha meredam raja raya yang ditakuti itu. Setahun kemudian (1886), pasukan Raya kembali melancarkan serangan ke Padang dan Bedagai. Kontrolir Belanda berkali kali memanggil Rondahaim untuk berunding, tetapi ditolak. Akhirnya pada bulan Nopember tahun 1886, Rondahaim mengirim wakilnya, Tobayas bertemu dengan Kontrolir. Dalam pertemuan itu, Tobayas tetap bersikukuh tidak mau tunduk kepada Belanda, bahkan menunjukkan sikap mengancam. Tobayas dan anggota pasukannya ditangkap, namun pada bulan Desember 1886, mereka dibebaskan. 

Pada pertengahan kedua bulan September 1887, pasukan Raya dalam jumlah besar (sekitar 6-7 ribu orang / westenberg menyebutkan jumlah pasukan Raya sekitar 2000 orang) menduduki Hulu Padang dan Bedagai kemudian menyerang kampung Bandar Bajambu di Sungai Sibarau dan menghancurkan perkebunan Tembakau. Pasukan Raya benar-benar merepotkan penguasa Belanda, sampai Residen, Assisten Residen dan Kontrolir berada di Tebing Tinggi untuk melakukan koordinasi menghalau pasukan Raya. Pada tanggal 22 Oktober 1887 mereka menyerang pasukan Raya di Dolok Merawan dan Dolok Kahean. Setelah bertahan sekuat tenaga, akhirnya pasukan Raya mengundurkan diri dengan kehilangan pasukannya sekitar 22 orang antara lain Jalanim tewas dan Panglima Muda terluka. 

Pasukan Belanda kemudian kembali ke Medan dan beberapa hari kemudian mereka bergerak ke Pagurawan untuk menemui penguasa Tanjung Kasau dan Baja Lingge. Kalam Setia penguasa Bajalinggei, adik ipar Rondahaim menerima baik kunjungan itu dan menyatakan tunduk kepada Belanda pada tahun 1888. Pemerintah Belanda melalui Kalam Setia terus membujuk Rondahaim agar mau bekerja sama dengan Belanda, tetapi tetap ditolaknya. Kerja sama penguasa Bajalinggei dengan Belanda sangat menyakitkan Rondahaim. Oleh sebab itu, pada bulan Februari 1888 beliau melancarkan serangan ke daerah selatan Bajalinggei dan Dolok Merawan. 

Ketika pasukan Raya tidak mampu lagi melakukan perlawanan secara frontal menghadapi pasukan Belanda dalam berbagai pertempuran, muncul gagasan menarik dari Tuan Arga (Tuan Dolog Merawan) kepada Tuan Rondahaim Garingging. Gagasan itu inti nya adalah menyerang pasukan Belanda siang maupun malam dalam unit unit kecil pasukan Raya dengan cara sabotase, membakar kampung kampung yang sudah dikuasai Belanda dan perkebunan baik pondok, bangsal tembakau maupun tanaman tanaman perkebunan. 

Tuan Rondahaim Garingging (1828-1891) adalah Raja Kerajaan Raya (sekarang di Pematangraya, Kabupaten Simalungun, Sumut) yang gigih menentang dan melakukan perlawanan terhadap Kolonialisme Belanda pada masanya. Ia diusulkan menjadi salah satu Pahlawan Nasional dari Sumatera Utara. 

Waktu Belanda memasukui Rayakahean, Rondahaim menghadangnya dengan menebang pohon besar yang melintang di Dolog (Gunung) Simarsopah, dekat Desa Bahpasunsang sekarang. Sampai sekarang tempat itu dikenal orang dengan nama Pangolatan (tempat mengadang /Belanda). 

Tuan Rondahaim menghabiskan waktunya untuk mempertahankan Simalungun dari serbuan pasukan Belanda. Beliau adalah satu satunya raja dari Sumatera Utara yang tidak pernah ditangkap Belanda sampai akhir hayatnya. 

Karena sering terjadi perlawanan maka Pemerintah Belanda pun membangun kontrolirnya di Damak Jambu. C.J.Westenberg pernah menjadi Controleur Urusan Batak di Damak Jambu (Bangun Purba) pada tahun 1902. Pada tanggal 7 November 1902, Westenberg menerima penyerahan Kerajaan Raya dengan ditandatanganinya Korte Verklaring oleh Harajaan Raya dan Tuan Sumayan sebagai Raja Raya.

1893 - 1896 Ekspedisi Tamiang

Ekspedisi Tamiang 1893
Pada tanggal 16 Februari 1893, Belanda melakukan penyerangan secara besar-besaran dengan senjata lengkap seperti Senapan dan Meriam ke Tanjung Mulia (Pangkal Timbang ) letaknya tidak jauh dari Seruway. Tentara Belanda terus berdatangan menuju Bendahara. Penyerangan di lakukan mulai subuh. Dari penyerangan ini Belanda berhasil menaklukan benteng rakyat yang di pimpin oleh Dt. Tanjung. Tempat kediaman Raja Bendahara di taklukan oleh Belanda, secara umum Belanda telah menaklukan Bendahara. Setelah menguburkan tentara Belanda di Perkuburan Arun Gajah ( Seruway) atas agresi yg mereka lakukan di Bendahara. Mereka kembali ke Labuhan melalui Salah Haji. Rakyat memasang ranjau di seluruh alur sungai untuk mengantisipasi penyerangan Belanda.

Kapal perang Belanda di Seruway 1893
Tugu Tamiang di Lap. Eksplanade
Tanggal 29 Maret 1893 Belanda mengirimkan tentaranya dari Medan menuju Seruway yang terdiri dari 8 Opsir serta 200 Serdadu dengan 2 unit Meriam Gunung. Puluhan serdadu Angkatan Laut Berbangsa Belanda & Satu divisi pendaratan terdiri atas 120 Org Serdadu. Ekspedisi ini di pimpin oleh Kolonel A.H.V.D. Pol. Dalam Perang Kolonial di Tamiang, Perang Lubuk Batil dan Tumpuk Tengoh ini menjadi sebuah catatan sejarah sebagai salah satu perang terdasyat, karena banyak memakan korban Jiwa di kedua belah pihak. Di pihak tentara Belanda yang Gugur,antara lain: Pos Komando seruway Let V/d Schroef, Pasukan AL Let. Mensert,Let. Zelman & Let. Engelen dan 128 serdadu dengan para Offisieren. Untuk Mengenang Peperangan ini Belanda Mendirikan Tugu Perlawanan Tamiang, tepat di depan Stasiun Kereta Api di Medan ( Jantung Kota Medan). Di Pihak Raja Tamiang Panglima Perang & sebanyak 60 orang Laskar Gugur termasuk, Panglima Perang Raja Banta Achmad Tewas dalam Peperangan ( Syahid). Beliau di makamkan ditanah tinggi di kampong hilir sungai Iyu). Setelah melihat kekuatan dari Pihak Belanda, pada Tahun 1893, Perlawanan Bendahara & Kejuruan Muda melemah,maka Raja Maan dari Kejuruan Muda menemui Controleur Sieberg di Seruway melalui T Sulung Laut Sultan Muda Indera Kesuma.

Setelah benteng terakhir di Lubuk Batil & Tumpuk Tengoh dihancurkan oleh Belanda, maka takluklah Kerajaan Bendahara di Tamiang pada tanggal 2 April 1893 bertepatan dgn 16 Ramadhan 1315 H. Raja Maan pun dari Kejuruan Muda ikut menyerah kepada Belanda yang disampaikan oleh Raja Sulung yang sudah duluan menyerah kepada Belanda.
T. Raja Silang

Mendengar hal ini, Kerajaan Karang yang dipimpin oleh Raja Ben Raja & Putranya T.Raja Silang menjadi Murka. Mereka pun mengadakan musyawarah di Meunasah Alur Bemban yang juga dihadiri oleh Panglima T.Mamat dari Aceh. Keputusannya sebagai berikut:
  1. Raja Maan harus di Beri Ganjaran.
  2. Perang Tamiang Melawan Belanda di Pimpin Oleh T.Raja Silang.
  3. Mulai dari Alur Bemban menyelusuri kanan mudik Sungai Tamiang di tempatkan benteng – benteng Perlawanan Rakyat di Bawah Pimpinan Panglima Perang masing – masing.
  4. Setiap Kapal Sekoci milik Belanda Harus di Musnahkan.
Kontroleur Sieberg dari Seruway mengutus Raja Maan untuk mengadakan perundingan ke Kerajaan Karang. Raja Maan yang didampingin oleh Dt.Hakim, Dt.Tandil dan Raja Hitam yg merupakan adik kandung dari Raja Maan sendiri.
Ketika rombongan ini berada di atas sungai kampung air tenang, Panglima Badal - salah satu Panglima dari Nyak Mamat dengan rasa dendam yang berkepanjangan memerintahkan anak buahnya untuk menembakin perahu Raja Maan. Walhasil Raja Maan, Dt Hakim & Raja Hitam tewas dalam Insiden tersebut.

Atas sikap yang tidak kesatria dari Panglima Badal, T.Raja Silang merasa sangat kecewa & meminta Panglima T.Nyak Mamat meninggalkan Tamiang. Atas insiden tersebut Belanda Tidak Mengakui Lagi Kekuasaan Raja Ben Raja & Raja Silang serta keluarganya tidak memiliki hak lagi atas Kerajaan Karang.

T.Raja Silang tidak Peduli terhadap keputusan Belanda tersebut yang tidak mengakui Kekuasaanya. Ia pun menyerahkan kekuasaannya sebagai kepala pemerintahan kepada Kejuruan Tandil. Seorang saudagar bangsawan asal Serdang.

Lalu ia mengundang Raja Nyak Mud dari Tanjung Mancang Ke Paya Awee. Mereka membicarakan tentang kematian Raja Maan. Mereka pun bersepakat untuk meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Pada saat itu pun Raja Nyak Mud di beri pangkat Raja Muda Negeri Tamiang Hulu (Kejuruan Muda) yang berpusat di Tanjung Mancang. meneruskan Pemerintahan Kejuruan Muda dan berdampingan dengan Kaum Pejuang. Sementara itu di pihak Belanda, Raja Husin diangkat menjadi Mangku Raja Kejuruan Muda di Seruway.

Perlawanan terus terjadi, pada tanggal 19 Juli 1893 Tanjung Sementok di serang dan dibinasakan, Kontrolir Sieberg mengirimkan utusannya kepada Raja Ben Raja untuk bersedia melakukan perundingan di Seruway. Pada tanggal 12 Agustus 1893 Raja Ben Raja mengadakan Musyawarah dengan Para Datuk & Panglimanya atas undangan tersebut. Keputusan dari musyawarah itu bahwa Raja Ben Raja  tidak mau menghadiri perundingan tersebut. Raja Ben Raja pun memerintahkan  panglimanya untuk berjaga-jaga mulai dari Alur Bemban menyelusuri kanan mudik Sungai Tamiang hingga Air Tenang dan memerintahkan menembak setiap sekoci Belanda yang melewati daerah tersebut.

Pada tgl 23 Agustus 1893 Raja Silang mengadakan musyawarah di alur bemban bersama Panglima Cut mamat dari Perlak yang mana keputusan adalah tetap meneruskan perlawanan dan menghukum Raja Maan yang telah menyerah ke Seruway.
Tgl 27 Agustus 1893 Kontrolir Sieberg mengutus seseorang ke Air Tenang untuk menemui Raja Ben Radja & Raja Silang. Pihak Belanda mengerahkan segala kekuatan untuk dapat membendung perlawanan T.Raja Silang, tetapi selalu gagal. Penyerangan dan patroli setiap hari di lakukan Oleh Belanda.

Pada tanggal 23 September 1893 dengan kekuatan yang cukup besar, Militer Belanda Menyerang benteng pertahanan Raja Silang di Paya Kelubi. Dalam insiden ini gugurlah mertua Raja Silang beserta laskar-laskar Lainnya.

Pada Tanggal 13 Oktober 1893, Raja Silang mengutus Panglima Perak menemui Raja Nyak Mud di Tanjung Mancang. Karena telah tersebar kabar kepada Raja Silang bahwasannya telah terjalin hubungan secara tersembunyi antara Raja Nyak Mud dengan Raja Husin Mangku Raja Kejuruan Muda di Seruway. Pada saat itu terjadilah perdebatan yang panjang hingga menewaskan Panglima Perak. Kejadian ini mengakibatkan putusnya hubungan antara Raja Nyak Mud dengan T.Raja Silang yg telah di ikrarkan di Paya Awe.

Bulan November 1893, datanglah bantuan Belanda yang di bawa oleh Raja Husin dan T.Sulung Laut dari Seruway ke Tanjung Mancang yang menemui Raja Nyak Mud yang secara kebetulan dalam keadaan terancam dari pihak Pejuang. Raja Umar, adik dari Raja Silang beserta anak buahnya menyerang Tanjung Mancang, Tetapi dapat di pukul mundur oleh T.Nyak Mud & Anak Buahnya. Selang beberapa hari kemudian, Raja Nyak Mud mengadakan serangan ke Sungai Kanan ke daerah pertahanan Raja Umar. Raja Umar melarikan diri ke Bukit Panjang. Akibatnya seluruh rumah penduduk di kampung Sungai Kanan di bakar oleh Pasukan Raja Nyak Mud.

Dalam pelariannya, Raja Umar tetap melakukan perlawanan. Salah satunya membumi hanguskan rumah penduduk yang menjadi pengikut Kejuruan Tandil yang telah di Angkat oleh Belanda Menjadi Raja Karang. Peristiwa Ini merupakan strategi Politik Adu Domba yang di lakukan Belanda untuk Menaklukan Tamiang.

Pada 9 November 1893 Tengku kejuruan Tandil di tetapkan oleh Residen van Sumatra Oostkust untuk mengurus Negeri Karang dan mengambil kekuasaan dari Raja Ben Raja. Dengan kekuatan 400 orang Prajuritnya, hampir setiap hari Raja Ben Raja bersama Raja Silang terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Pada tanggal 6 Desember 1893 Benteng Raja Silang di serang di Bukit Paja, dekat Manyak Payed . Dalam insiden ini putrinya TENGKU INTAN KEMALA PUTRI tertembak oleh serdadu Belanda. Sementara itu di pihak Belanda korban mencapai 24 Orang, dan sebahagian kecil melarikan diri. Pertempuran terus berlangsung, tepatnya pada tanggal 24 April 1894 dalam satu pertempuran di dekat Paja Awe, satu opsir & 20 anggotanya tewas sedangkan di pihak Laskar Raja Silang 10 orang jatuh meninggal dunia.

Dalam pertempuran tanggal 17 November 1894 di sekitar Paya Kelubi, Raja Ben Raja yang saat itu sudah sangat tua beserta Raja Umar terpaksa Menyerah & Mereka di bawa ke tempat kediaman Kontrolir di Seruway. Belanda pun ingin melakukan perundingan dengan T. Silang.

Tanggal 12 Desember 1894, tibalah di Bukit Mangga, rombongan T.Muda Cik Kejuruan Sungai Iyu  untuk mengadakan pertemuan dengan Raja Silang. Dalam pertemuan ini T. Muda menjamin T.Silang selama perundingan.

Setibanya di Seruway, Kontrolir Sieberg meminta supaya T.Raja Silang bersedia bekerja sama dengan Belanda. Jika ia menerima tawaran tersebut, maka kerajaan Karang akan di kembalikan kepadanya dan segera membebaskan ayahandanya Raja Ben Radja.

Istana Karang
Raja Silang menjawab sambil melirik kepada T.Muda  dan berkata: ”KAMI ORANG –ORANG PERJUANGAN ADALAH MERDEKA BAGAI BURUNG – BURUNG DI UDARA, OLEH KARENA ITU TIDAK MUNGKIN BISA KERJA SAMA DGN PEMERINTAHAN TUAN ( BELANDA ).

Pada tanggal 7 Febuari 1895 Belanda kembali menyerang Paya Kelubi dengan Kekuatan yang cukup besar. Benteng tersebut hanya di pertahankan oleh 20 orang laskar di bawah pimpinan Datuk Laksamana  dan Datuk Pang Jering. Datuk Pang Jering gugur dalam pertempuran tersebut beserta 15 orang anak buahnya. Datuk Laksamana mundur dan terus ke Lokop dengan Panglima Tapa dari Gayo. Untuk kesekian kalinya Raja Silang di Panggil oleh kontrolir Sieberg untuk Berunding. Raja Silang Menjawab dengan Tak Gentar: PERANG KAMI INI ADALAH PERANG SUCI, WALAUPUN BAGAIMANA DIPAKSA, DIHATI KAMI TETAP MEMUSUHI PENJAJAH (BELANDA).

Akhirnya, Raja Silang bersama Ayahandanya dan saudara-saudaranya di Buang ke Bengkalis ( Riau ) dengan dasar keputusan pemerintah Belanda tanggal 12 Oktober 1895 No.02 Dasar art 42.R.R. Dalam pembuangannya Raja Ben Raja pun meninggal dunia.

Meskipun Raja silang telah di buang, tetapi panglima bawahanya tetap melakukan perlawanan kepada Belanda. Pada Tanggal 22 Juli 1895 Dt.Panglima Amat di Marlempang mengadakan perlawanan. Setiap kapal yang lewat mereka serang. Beberapa awak kapal tersebut mati. Marlempang pun di serang Belanda. Panglima Husin & Imam tertangkap dan mereka pun menjalani hukuman selama 6 tahun di Batu Bara. Tanggal 16 & 17 Juni 1896 Panglima Kadhi & Panglima Udjud dengan kekuatan 60 Orang Anak buahnya,berhasil Membakar Istana Kuta Milik Tengku Kejuruan Tandil yang letaknya berhadapan dengan benteng Belanda di Kuala Simpang.


Pada tahun 1897 Laskar Tamiang yang telah bergabung dengan 20 Orang Gayo dan 120 Orang Aceh di bawah Kendali Panglima Tengku Tapa melakukan perlawanan. Terjadi baku tembak antara Opsir Belanda dengan Tengku Tapa disaat Belanda hendak menuju Manirang. Tapi sayang, Pasukan Tengku Tapa kalah, hingga ia harus mundur ke Batang Ara (Benteng Terakhir Raja silang yang ada di Batu Bedulang di Bawah Komando Dt Penghulu Rangai dengan Anak Buahnya yang Berasal dari Serawak). 

Untuk memperkuat Pertahanan Militer Belanda, maka perairan dan Sungai Tamiang di kawal secara terus menerus oleh sebuah kapal perang Belanda dan dipersenjatai sangat Lengkap Yang bernama ”WILHELMINA”. Sejak akhir tahun 1897, sudah tidak terdengar lagi serangan-serangan Laskar Tamiang karena kekuatan militer Belanda telah tersebar di mana-mana, tercatatlah perang tamiang di mulai sejak 27 Januari 1874 – 27 September 1896. Pada tahun 1901 atas permintaan rakyatnya, Raja Silang di bebaskan dari Tawanan Belanda.

Translate