Tampilkan postingan dengan label 1871 - 1873. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1871 - 1873. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Februari 2015

1871 Onderneming Petersburg

Rumah Administrator Petersburg Estate 1876
Tergabung dengan konsesi tanah untuk onderneming pertama Deli Maatschappij, ada juga Petersburg Estate yang masuk landskep Sukapiring. Pada catatan tahun 1881, Petersburg dipimpin oleh S. A. van Someren sebagai administator. Hasil yang didapat pada tahun pertama penanaman ini sebanyak 443.500 Amst ponden dengan 622 orang kuli.

Bangunan fermentasi Petersburg 1876

Pada tahun 1883 Perkebunan Danmark bergabung dibawah perkebunan Petersburg dengan J. M. Rappard sebagai administratornya. Hasil yang diperoleh pada masa itu sebanyak 333.000 Amst ponden dengan 502 orang kuli dan 180 orang kuli sampingan.

Pada tahun 1885, Hasil yang diperoleh mencapai 358 875 Amst ponden dengan  685 orang kuli dan  300 orang kuli sampingan. Pada tahun 1886 hasil mencapai 405.125 Amst ponden dengan 630 orang kuli dan 200 orang kuli sampingan. Pada laporan itu juga dilaporkan bahwa pada bidang tanah tembakau tidak sengaja ditanam juga padi.
Tapi sayang, pada catatan kolonial di tahun 1888 dilaporkan bahwa perkebunan ini sementara ditutup

Kamis, 19 Desember 2013

1873 Onderneming Soengai Sikambing & SiPoetih

Peta Onderneming SiKambing dan Si Putih
Pada tanggal 23 Agustus 1873, P dan G de Guigne mendapatkan hak konsesi atas tanah yang berbatas dengan perkebunan Medan, Helvetia dan Germania dan berada pada landskep XII Kotta dibawah Rijk Deli. Menurut catatan Koloniaal verslag van 1881, Mereka mendapatkan 1000 bahu luas tanah. Pada tahun itu jumlah pekerja tetapnya mencapai 300 orang lebih dan hasil tembakau yang diproduksi sebanyak Fl.240.000,-. Perkebunan ini sangat strategis sekali, selain dekat dengan wilayah Medan, kebun ini juga dilalui oleh sungai Sikambing yang bermuara langsung ke Sungai Deli dan perkebunan ini juga dilalui oleh jalur kereta api yang menuju ke stasiun Binjai. Seluruh hasil dapat dengan mudah diangkut langsung menuju Medan terus ke Belawan.

Pada tahun 1883, jumlah pekerja mereka mencapai 420 lebih dengan hasil tembakau mencapai Fl.325.835,-

Pada tahun 1886, J.Ferrand diangkat sebagai administrator penanggungjawab onderneming ini. Dengan jumlah kuli hanya 300 lebih membuat hasil tembakau berkurang hingga mencapai Fl.132.650,-. menurut catatan setelah panen tahun 1884, pembuahan dilakukan dengan Guano dan hasil yang diperoleh sangat mengecewakan.
Pada tahun 1888, Onderneming ini dimiliki oleh De Guigne Ferres dan Ferrand tetap menjadi administrator kebun ini. Hasil yang diproduksi pada saat itu sebesar Fl.188.412,-
Pada tahun 1896, Onderneming ini berpindah tangan menjadi milik Tabaks Maatschappij Franco Deli, G.H.L.Verweij diangkat menjadi Administratornya. Pada tahun ini sdh 1308 bahu lahan konsesi yang sdh diberikan dan 250 dari 7200 m2 lahan yang telah ditanami. Hasil yang diproduksi pada tahun ini mencapai 1976 pikol dengan kuli cina sebanyak 308 orang, Jawa 70 orang, Keling 37 orang dan suku Bawean 42 orang.
Pada catatan Kolonial tahun 1900, Perkebunan Sungai Sikambing ini diambil alih oleh Medan Tabaksmaatchappij dengan 304 m2 lahan yang telah dimanfaatkan dan dengan hasil mencapai 2852 pikol dengan 705 orang jumlah kulinya.

Pada catatan tahun 1905, Perkebunan Sungai Sikambing digabungkan dengan perkebunan Siputih yang sama-sama milik dari Medan Tabaksmaatschappij. Kedua perkebunan ini memang berbatas sama (lihat peta diatas). Perkebunan Siputih mendapat kontrak konsesi tanggal 20 Februari 1876 atasnama J.de Floris dengan K.F. Hordick sebagai Administratornya. Pada tahun 1888, B.P.Warsinck diangkat sebagai administrator dan pada tahun 1893 digantikan oleh A.Davoine.
Pada tahun1896, kebun Siputih ini sama dengan Kebun Sikambing menjadi milik Tabaks Maatschappi Franco Deli.

Setelah bergabung ini, dua perkebunan ini memiliki tanah sebesar 2178 bahu tanah dengan 201 m2 lahan yang telah digarap dari 6690m2. Jumlah kuli pada tahun tersebut sebayak 575 orang. Hasil tembakau yang diproduksi pada tahun itu sebanyak 1730 pikol.

Karena kurang pamornya tembakau setelah masuknya karet dan kelapa sawit maka pada tahun 1913 adalah tahun terakhir perkebunan Sikambing dan Siputih ini, karena pada catatan tahun 1914 dan seterusnya perkebunan milik Medan Maatschappij ini sudah tidak terdata lagi. Akhir tahun 1913 ini luas bahu tanah yang tercatat sebesar 1443 dengan 213m2 lahan yang digarap 2556 pikol tembakau.






Senin, 13 Mei 2013

1872 Onderneming Two Rivers

Para Planters berpose di depan rumah
Administrator Onderneming Two River 1876
Bersebelahan dengan lahan Perkebunan Deli Toewa, Erven mr.W. Baron Baud mendapat konsesi pembukaan lahan tembakau di landskep Soeka Piring, afdeling Deli dalam konsesi tertanggal 18 Maret 1872 dan  berakhir 18 Maret 1974. Pada catatan tahun 1881, Mr Baron mendapat tanah seluas 2000 bidang dengan hasil pada saat itu sebesar Fl.15.000,-. Jumlah kuli kontraknya sebanyak 290 orang dan 20 orang kuli lokal. Mr. Baron mengangkat G.Meijer sebagai adminsitrator onderneming ini pertama sekali.

Two rivers berasal dari bahasa Inggris yang artinya 2 sungai. Perkebunan ini memang dihimpit oleh 2 buah sungai, yaitu: Sungai Babura yang memisahkan onderneming ini dengan onderneming St.Cyr dan Bekala juga ada Sungai Deli disebelahnya yang memisahkannya dengan Perkebunan Deli Toewa.


Perkampungan Onderneming Two Rivers 1876
Pada tahun 1888, G.Meijer digantikan oleh B.Krol. Pada masa ini hasil yang diperoleh mencapai Fl.331.000. Jumlah kuli kontrak pun meningkat menjadi 634 orang dan kuli lokal sebanyak 80 orang. Pada tahun 1889, Perkebunan ini dirubah kepemilikannya menjadi Baron Baud Association.

Jalan di perkebunan Two Rivers 1876
Pada catatan Tahun 1893, Kepemilikan onderneming ini berubah menjadi milik Medan Tabak Maatschappij dengan administratornya G.N.Aberson. Tercatat pada tahun ini akhir masa kontrak konsesi tertanggal 27 Desember 1950 dengan luas tanah sebesar 3750 bidang. Hasil yang diperoleh pada tahun ini sebanyak 2504 pikol tembakau dengan jumlah kuli kontrak Cina sebanyak 580 orang, Jawa 179 orang dan Kling 56 orang, sedangkan jumlah kuli lokal Batak sebanyak 30 orang.

Pada tahun 1909, sudah 430m2 dari 7000m2 lahan yang telah digarap dengan hasil sebanyak 5052 pikol tembakau. Jumlah kuli kontrak pada saat ini sebanyak 920 orang dan kuli lokal 60 orang. Pada tahun 1919, Jumlah lahan konsesi yang diberikan kepada Medan Tabak Mij sebesar 5770 bidang dengan hasil sebanyak 4122 pikol. Jumlah kuli kontraknya sebanyak 998 orang.

Senin, 29 April 2013

1872 Onderneming Rotterdam

Rumah di Onderneming Rotterdam 1885
Tak Banyak orang yang tahu sekarang ini dimana keberadaan Onderneming Rotterdam ini. Onderneming ini milik Deli Maatschappij. Onderneming ini mendapat tanah pertama sekali dalam kontrak konsesi tanggal 17 Agustus 1870 dan berakhir 17 Agustus 1945 didaerah Sialang Muda, Landskep XII kota dan Serbajaman sebanyak 500 bidang. Pada tanggal 10 Januari 1871, dikeluarkan lagi untuk daerah Sinlang Toenas sebanyak 800 bidang. Dan diberikan lagi konsesi tanggal 18 Mei 1876 dengan lahan 500 bidang.  Total bidang tanah Rotterdam sebanayk 2300 bidang tanah.

Pada catatan Kolonial 1873, pemilik perkebunan ini adalah Ritgen dan Sturzenegger, tetapi pada catatan 1880, pemilik perkebunan ini menjadi Ritgen & J.Cremer dan Cremer sendiri yang menjadi administratornya pada saat itu.

Onderneming ini berada di daerah Diski, pada waktu itu diketahui sebagai landskep Serbajaman, Afdeeling Deli. 

Di perkebunan inilah terdapat stasiun kereta api Diski. Onderneming Rotterdam berbatas dengan perkebunan Sungai Bras, Timbang Langkat, Paja Bakong dan Kloempang.

Pada tahun 1880, Onderneming ini sudah menghasilkan Fl.207.000 dari penghasilan tembakau dan pala. Jumlah Kuli kontrak pada masa itu berjumlah 300 orang dan 50 orang kuli lokal.
Pada tahun 1883, Rotterdam sudah menghasilan Fl. 387500 dengan jumlah kuli kontrak meningkat menjadi 538 orang dan 30 orang kuli lokal.


Sungai Bras mengalir di Onderneming Rotterdam 1878

Pada tahun 1889, lahan Rotterdam dibagi menjadi 2 Onderneming, yaitu Roterdam A dengan 1800 bidang dimiliki Ritgen dan cremer dengan Admisistratornya F.The Losen sedangkan Roterdam B dengan 1250 bidang diangkatlah B.V.Bulow sebagai administrator pada masa itu.

Pada Catatan 1891, Rotterdam A memiliki kuli kontrak Cina sebanyak 691 orang, Jawa 51 orang, Kling 54 orang dan Bawean 36 orang sedang kuli tidak tetap terdiri dari Batak 21 orang dan Bandjar 154 orang. Pada masa ini Administratornya digantikan oleh Ch.Von Bernstorff dengan hasil 730.212 (in Ams ponden) dari 412m2 lahan yang sudah digarap. Sedangkan Rotterdam B memiliki kuli kontrak tetap terdiri dari: Cina sebanyak 410 orang, Jawa 64, Klings 44, Bawean 25 orang sedangkan kuli tidak tetap terdiri dari: Batak 36 orang, Gayo 10 orang dan Banjar 75 orang.

Pada catatan tahun 1896, Kepemilikan perkebunan ini berubah menjadi sepenuhnya milik Deli Maatschappij dengan administrator Rotterdam A yaitu: B.H.A.von Bulow dengan luas 4037 bidang tanah konsesi dan Rotterdam B dengan 2637 bidang tanah yang dipimpin oleh administratornya G.Henning. Pada tahun ini tembakau yang dihasilkan Rotterdam A sebanyak 4037 pikol, sedangkan Rotterdam B sebanyak 2637 pikol.


TahunOndernemingOndernemerAdministrator
1871Rotterdam ARitgen & CremerRitgen & Cremer
1885Rotterdam ARitgen & CremerRitgen(1885)
1886Rotterdam ARitgen & CremerF. The Lossen (1886)
1891Rotterdam ARitgen & CremerCh.von Bernstorff(1891)
1896Rotterdam ADeli MaatschappijB.H.A.von Bulow(1896)
1889Rotterdam BRitgen & CremerB.H.A.von Bulow
1893Rotterdam BRitgen & CremerG.Henning(1893)
1896Rotterdam BDeli MaatschappijG.Henning(1893)

Pada tahun 1914, Perkebunan Rotterdam A dan B menjadi milik dari Medan Tabakmaatschappij. Kedua perkebunan ini memiliki luas konsesi sebesar 5182 hamparan dengan 828m2 lahan yang sudah digarap. Pda tahun ini perkebunan ini memiliki hasil produksi tembakaunya sebesar 7342 pikols. Jumlah kuli tetap yang terdata pada tahun itu sebanyak 2460 orang. 
Pada catatan tahun 1919, luas lahan berkurang hingga hanya 3200 hamparan dengan hasil hanya sebesar 4406 pikols dengan jumlah kuli tetapnya sebanyak 910 orang. 

Kamis, 18 April 2013

1871 Onderneming Mariëndal

Rumah Administrator Mariendal Estate 1876
Selain membuka perkebunan Medan dan Sampali, Deli Maatschappij juga membuka perkebunannya lagi ditahun 1872 di Mariëndal dengan konsesi no. 1 tanggal 11 Januari 1871. Perkebunan ini masuk dalam landskep Soeka Piring. Berbatas dengan perkebunan Petombah dalam maskapai Senembah Mij, Perkebunan Amplas dalam maskapai Amsterdam Deli Company dan perkebunan Gedong Johore maskapai Deli Batavia Mij.

Kabupaten Mariendal Kopenhagen 1890
Sedikit sejarah tentang nama Mariendal sendiri itu diambil dari nama sebuah kabupaten di Kopenhagen Denmark. Belum ada penelitian mengapa daerah onderneming ini menjadi Mareindal. 

Pada tahun 1881, Onderneming ini pertama sekali dipimpin oleh G.E. Haarsma sebagai administrator. Pengalaman beliau membangun onderneming ini ditulis dalam sebuah buku berjudul De Tabakscultuur in Deli. Pada tahun ini hasil yang diperoleh sebanyak Fl.362.500 dengan 530 jumlah kuli kontrak.

Pada tahun 1885, Onderneming ini mendapat luas tanah sebesar 10500 bidang. Pada tahun ini hasil yang diperoleh meningkat mencapat Fl.438.125 dengan jumlah kuli sebanyak 587 orang dan kuli lokal sebanyak 200orang.


Para Administrator dan Asisten Kebun Mariëndal 1876

Pada catatan Kolonial tahun 1890, bahwa sudah digarap lahan seluas 337m2 dari lahan konsesi 13500 bidang dan 500 bidang yang dikontrak. Hasil tembakau yang diperoleh pada tahun itu sebesar Fl.510.625,- . Jumlah kuli kontrak pada tahun itu Cina 583 orang, Jawa 159 orang, Klings 23 orang dan Bawean 17 orang. Sementara kuli lokal terdiri dari: Batak 80 orang dan Melayu 25 orang. Catatan yang diberikan pada saat itu: Op denzelfden grond werd na 10 jaren en na voorafgaande guanobemesting geplant, met gunstigen uitslag. 33 pet. der voor de onderneming benoodigde rijst werd door eigen cultuur verkregen. Bij deze tabaksonderneming werd ook koffie geteeld, mnar met ongunstig gevolg, zoodat de aanplantingen zouden worden verlaten. (Dilahan yang sama ditanam untuk 10 tahun dengan diberi pupuk Guano sebelumnya. Dibudidayakan juga beras. Dalam perkebunan ini juga dibudidayakan Kopi dan Mnar dengan efek buruk, sehingga perkebunan ditiadakan).

Perkebunan ini selain menanam tembakau, juga membudidayakan tanaman kopi sebelum tahun 1890. Pada catatan Koloniaal verslag 1909, Kebun ini mendapat 3000 bidang tanah konsesi dan telah digarap sebesar 410 m2 dari 6000m2. Jumlah kuli kontrak pada tahun itu sebanyak 1119 dan kuli tetap sebanyak 30 orang. Pada tahun itu sudah menghasilkan tembakau berkwalitas sebanyak 5000 pikol.

Hasil tembakau pertama dari Perkebunan Mariëndal pada tahun 1900

Para Administrator Ond.Mariendal


TahunOndernemerAdministrator
1881Deli MaatschappijG.E. Haarsma
1885Deli MaatschappijG.J.G van der Hoeven
1888Deli MaatschappijTh.C.Barklay
1892Deli MaatschappijA.Enthoven
1896Deli MaatschappijH.W.J.W.Idzerda

1872 Onderneming Medan Estate

Onderneming Medan Estate
September 1870
G.L.der Kinderen
Setelah Nienhuys kembali ke negeranya dan Deli Maatschappij dipimpin oleh Cramer, maka pada tahun 1872, setelah perkebunan Tanjung Spassai di Labuhan Deli, pengembangan pembangunan budi daya tembakau melebar ke Medan. Onderneming Medan dibuka dengan kontrak konsesi no.1 pada tanggal 11 Januari 1871 bersama onderneming Sampali dan Mariendal. Masa kontrak selama 99 tahun. Kebun ini berada di Landskep Soeka piring onderafdeling Deli, pada tahun 1888 masuk dalam landskep Medan. Menurut catatan Kolonial verslag 1873, Administrator kebun ini pertama adalah E.A.F. Straatmann. Straatman adalah wakil administrator Deli Maatschappij pada tahun 1870 hingga 1877.  Pada catatan kolonial pada tahun 1890, Onderneming ini dipimpin oleh administratornya G.L.der Kinderen. Kinderen termasuk lama memimpin onderneming ini hingga tahun 1896 baru beliau digantikan oleh J.O.L.A.Neubourg.

Budi daya ordeneming Medan Estate ini terfokus pada tembakau, pala, rami & coklat. Pada tahun 1890 sudah 340m2 yang digarap dengan hasil tembakau Fl.544.375. Kuli kontrak pada tahun itu terdiri dari Cina 616 orang, Jawa 85 orang, Kling 41 orang dan Bawean 11 orang, Sedang kuli lokal terdiri dari Batak 61 orang dan Mandailing 35 orang.

Dalam catatan ini diterakan: Zonder voorafgaande bemesting werd op denzelfden grond voor de 2de maal gaplant met bevredigenden uitslag. De grond lag 10 jaren braak. 10 pet. der voor de onderneming benoodigde rijst werd door eigen cultuur verkregen. 

E.A.F. Straatmann
Pada catatan koloniaal verslag 1909, Onderneming Medan Estate ini mendapat lahan konsesi sebesar 13500 bouw dan yang dikontrak seluas 500 bidang dengan tanah seluas 410 m2 dari 6000 m2 yang sudah digarap. Jumlah Kuli kontrak pada tahun itu sebanyak 985 orang dan kuli tetap sebanyak 107 orang. Hasil yang diperoleh pada tahun itu sebesar 3599 pikol tembakau.

Pesatnya perkembangan perekonomian mengubah Deli menjadi pusat perdagangan yang mahsyur dengan julukan het dollar land alias tanah uang.

Lahan tembakau di Onderneming Medan


Rabu, 10 April 2013

1891 Koin Onderneminng Tanjung Alam


Perusahaan tembakau Tanjung Alam berada di sei. Dadap Asahan. Sekitar 40 km dari Tandjong Balei. Periode mengeluarkan token: 1871-1897. Koin perkebunan ini terdiri dari:

  1. Koin Tanjung Alam 1/2 dollar ,1871
  2. Tandjong Alam, $ 1 reis 1891, brass, 39 x 54 mm.
  3. Koin Tanjung Alam 20 cent, 1891, nikel, 39,6 x 28,4mm.

Rabu, 20 Februari 2013

15 Mei 1873 Asisten Residen Deli dibentuk


Peta Asisten Residen Deli tahun 1873
Setelah berakhirnya perang Sunggal, maka melalui Staatsblad No. 81/1873 Ratu Belanda menyatukan kesultanan Siak dan wilayah Sumatera Timur dalam Residen Sumatera Timur yang beribukota Bengkalis.

Walaupun Belanda mengakui Sultan Syarief Hasyim sebagai Sultan, tapi Belanda tetap menempatkan Kontrolirnya di Siak. Dalam Besluit tanggal 15 Mei 1873 didalam Residen Sumatera Timur terbentuklah Asisten Residen Deli.

Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin



Istana Asseraiyah Hasyimiah/ Matahari Timur (Eropa) Siak Sri Indrapura

Kamis, 24 Januari 2013

Uang Javasche 1815 - 1873

Pada masa Hindia Belanda, untuk memperlancar berbagai urusan maka pada tahun 1828 didirikanlah sebuah bank dengan nama De Javasche Bank yang kemudian mengeluarkan mata uang yang dibuat dari unsur logam (perak, tembaga dan nikel) dan uang kertas yaitu gulden, ringgit, cent, ketip, dan benggol. Beberapa tahun kemudian dibuka perkebunan yang menanam tanaman ekspor antara lain di Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Pada masa itu perkebunan diperbolehkan mengedarkan mata uang yang berlaku khusus di wilayah perkebunan itu sendiri yang disebut dengan uang token*).

Hal menarik dari uang token atau sering disebut dengan uang kebon ini adalah mengenai lingkup pemakaiannya. Uang ini sepintas memang memiliki fungsi yang sama dengan mata uang pada umumnya yaitu sebagai alat tukar, namun pemakaian mata uang ini hanya berlaku di wilayah perkebunan saja. Dengan kata lain uang token / uang kebon  tidak berlaku di luar wilayah perkebunan.

Perkembangan Perkebunan dan ekonomi tidak lepas dari alat pembayaran dan tukar menukar yang sah, yaitu: uang atau mata uang yang dipakai. Javasche Bank sebenarnya sudah mengeluarkan uang dari tahun 1815 hingga 1920.

Seri uang Creatie (1815)

Seri Creatie 1815
Uang ini merupakan surat kredit pemerintah Belanda, terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 50, 100, 300, 600 dan 1000 gulden.

Seri Recepis Perak (1846)

Seri Recepis Perak 1840
Seri Recepis atau disebut juga Recepis Perak (1846) terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, 100, 500 gulden.

Seri Bingkai I (1864-1903)

Seri Bingkai I 1864
Seri Bingkai I mulai edar tahun 1864 hingga 1903. Seri ini terdiri dari pecahan 5, 10, 25, 50, 100, 200, 300, 500 dan 1000 gulden.




Perang Sunggal 1872

Dato' Sunggal
Karena Keuntungan yang sangat menjanjikan dari perkebunan tembakau, maka berdatanganlah maskapai - maskapai dan para kapitalis asing meminta tanah kepada Sultan Deli, sehingga akhirnya tidak ada lagi tanah yang dapat diberikan kepada pada penduduk asli pada masa itu. Sultan Mahmud selalu dengan gampangnya memberikan tanah kepada maskapai-maskapai kolonialis . 

Keserakahan maskapai-maskapai perkebunan Belanda inilah membuat masyarakat Sunggal menentang perluasan perkebunan Belanda serta mengancam Kesultanan Deli. Kepala di Timbang Langkat, SULONG BARAT (anak dari DATO' JALIL adik dari Dato' KECIL, Paman dari Dato' Sunggal: BADIUZZAMAN SRI DIRAJA) mengumpulkan pasukan untuk mengancam Kesultanan Deli. 

Melihat pergolakan yang dilakukan oleh Sulong Barat, Atas nama Sultan Deli, Belanda pun mengirim Ekspedisi Militer I dibawah Kapten Koops dari Riau. Berkat bantuan dari Gayo dan Senembah, Sunggal berhasil mengalahkan Belanda dan membakar perkebunan di Sunggal dan medan sekitarnya.

Tak cukup saja dengan itu, Pada tanggal 10 Juli 1872 Belanda pun mendatangkan kembali Ekspedisi militer II nya dengan persenjataan yang lebih berat dan modern dibawah pimpinan Letkol. P.F. Van Hombracht dari Batavia (Jakarta). Tetapi walaupun perang ini begitu sengit, rakyat Sunggal dapat mematahkan serangan Belanda. 

Pada tanggal 20 September 1872 didatangkanlah kembali Ekspedisi Militer III dibawah pimpinan Mayor H.W.C. Van Stuwe dari Batavia (Jakarta). Pada Tanggal 24 Oktober 1872, Dato’ Sunggal Badiuzzaman Sri Diraja beserta pamannya Dato’ Kecil ditangkap, karena dikhianati ketika mengadakan perundingan dengan Belanda. Dato’ Sunggal, melalui Kerapatan Besar Deli, dibuang ke Jawa seumur hidup pada tahun 1895. Dua diantaranya yakni Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya, Datuk Alang Muhammad Bahar. Masing-masing dibuang ke Cianjur dan Banyumas.

Makan Datuk Badiuzzaman Surbakti dan Datuk Alang Muhammad Bahar
Saat ini bukti kedua orang Melayu dari Kedatukan Sunggal yang dibuang ke Cianjur dan Banyumas itu makamnya dikenal dengan sebutan Makam Istana Deli, dan kedua makam itu dihormati oleh penduduk setempat.

1899 Rumah Sakit Deli Maatschappij



Rumah Sakit pertama milik Deli Maastchappij dibangun disebelah kantor Deli Planters Vereenging (D.P.V) pada tahun 1871 (Sekarang milik Rumah Sakit PTP II Jalan Putri Hijau) awalnya pada tahun 1871. Dokter yang pertama sekali bertugas adalah dr.H.Sanders Eza.


Pada waktu itu hanya menanggani sakit ringan saja. Apabila ada yang mengalami sakit berat terpaksa diangkut naik tongkang ke Penang.

H.Ingerman
Pada bulan Juli 1899, atas prakarsa H.Ingerman selaku Hoofdadministrator Deli Maatschappij 1897-1901 yang melakukan derma terhadap orang Belanda yang pernah tinggal di Medan.  Dari hasil derma ini, ia mendapat uang sebesar Fl.15.000,- dari P.W.Janssen dan J.Nienhuys untuk membuka ruang operasi.

Karena biaya tidak cukup maka dipungut lagi sumbangan dari Firtz Meyer dari Zurich sebagai pemilik Perkebunan Namoe Terasi sebesar Fl.10.000,- ditambah sebidang tanah besar sebagai tempat untuk pembangunan Rumah Sakit tersebut.

Kemudian dipunggut pula sumbangan dari masyarakat lainnya sehingga jumlah mencapai Fl.7000,-. Setelah terkumpul maka dibangunlah Rumah Sakit tersebut.
Pada tahun 1901, Tuan Schmid selaku administrator Deli Batavia Maatschappij menyumbang untuk dibangun satu sayap dari bangunan besar itu untuk pasien-pasien yang menderita penyakit parah. Pada awal pembangunan terdapat 8 buah ruangan dengan 5 orang perawat terlatihyang dipimpin oleh seorang wanita. Pimpinan Rumah sakit dipegang oleh seorang ketua (Presiden), seorang sekretaris yang harus dipegang oleh seorang dokter praktek,seorangn bendahara dan suatu dewan yang terdiri dari 5 orang anggota. Pendapatan dari Rumah sakit itu terutama dari sumbangan-sumbangan dan kontribusi (iuran) dari 39 perusahaan, klab , baik di Jerman maupun Swiss dan minimum pembayaran Fl.2,50/bulan memberikan keringanan kepada yang mendaftar dan keluarganya untuk memperoleh hak khusus yaitu setelah dirawat sebulan, tarifnya dikurangi 20%.



Translate