Sultan van Serdang

Lambang Kesultanan Serdang


Awal sejarah Kesultanan Serdang tidak lepas dari sejarah Kesultanan Deli. Diawali dengan Kerajaan Haru/Aru hingga Gocah pahlawan menaklukkan Haru, berikut keturunannya hingga mangkatnya Tuanku Panglima Paderap sampai pada saat pemilihan penerus Kesultanan Deli Hingga akhirnya Tuanku Umar Johan terusir dari istana Deli waktu itu. 

1723 - Atas perlakuan yang dilakukan oleh Tuanku Pasutan selaku Sultan Deli terhadap adiknya Tuanku Umar Johan tersebut maka dua orang besar di Deli, yaitu Raja Urung Sunggal marga Surbakti dan Raja Urung Senembah marga Barus serta bersama dengan seorang Raja Urung Batak Timur marga Saragih yang menghuni wilayah Serdang bagian Hulu di Tanjung Morawa dan juga seorang pembesar dari Aceh Uleebalang Lumu (Kejeruan Lumu), merajakan Tuanku Umar Johan selaku Raja Serdang yang pertama.


Para Datuk ini pun segera membawa Tuanku Umar beserta ibundanya Permaisuri Puan Sampalike muara sungai Serdang dan merajakan Tuanku Umar sebagai Sultan Serdang yang pertama (1723 M). Mereka membawa Sarakata dengan Cap Sikureung dari Sultan Aceh untuk pesan penobatan Tuanku Umar yaitu sebagai berikut:

“Memerintah Negeri Serdang dengan peringgannya, yang termadzkur, dan menghukumkan atas sekalian rakyatnya, dan mengambil wadsil, dan adat serta derajat, seperti yang kanun oleh Paduka mahkota alam Iskandar muda, dan hendaklah menjunjungkan yang titah Allah, dan sabda Rasul dan menyarankan sekalian Raja-raja dan menyarankan kami, serta menjauhkan larangannya Liqaulihi Ta’ala Amarabil ma’rufi, wanaha’anilmunkari, dan lagi firmanNya ‘athiaulaha wa’athi aul Rasuli wa’ulul amriminkum, dan hendaklah memeliharakan segala hamba Allah, jangan teraniaya, dan mencurahkan sekalian rakyat pada perintah jalan syariah dini Muhammadin, karena firman Allah Ta’ala wa’aqimursalata wa’atuzakata watsumu ramdhana watahiyul baita kanistatha illahi sabila, lagi pula hendaklah dikuatkan atas sekalian rakyat sembahyang Jum’at pada tiap-tiap mesjid dan sembahyang berjamaah pada tiap-tiap waktu adanya. Waba’dahu apabila memutuskan barang diperhukuman hendaklah dengan mau dengan periksanya sehabis-habis ijtihad, karena firman Allah Ta’ala Innallaha ja’murukum bil’adil walihsin, dan lagi firmanNya, fahkum bainakum bima anzalallahu walatattabi’ilhawa, dan lagi firmanNya yaadauda tahakamta binan nasi antahkumabil adli fihadizil kudsi, sebagai lagi wilayah nikah, fasah, fitrah anak yatim dan menerima harta baital mal yang dalam daerah segala peringgannya. Maka barang siapa yang berkehendak kamu sekalian datanglah kepada kami.”

Raja itu adalah zillullah fi’l alam.Setelah dibacakan oleh utusan Aceh itu, dipukullah gendang dan naubat. Maka oleh Raja Urung Senembah dinyatakanlah bahwa:

“Ada Raja Adat Berdiri, Tiada Raja Adat Mati.”

“Raja Adil Raja Disembah, Raja Zalim Raja Disanggah”. (Tidak durhaka tetapi, negeri ditinggalkan seperti di dalam hikayat lama, negeri itu akan lengang ibarat disambar garuda. Raja akan kehilangan daulatnya, menjadi miskin dan turunlah derajatnya).

Oleh Kadhi Malikul Adil berbicara:
Di dalam Surat an- Nisa’ Ayat 59 diterakan:
Wahai orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada Ulil Amri (orang yang berkuasa) dari kalangan kamu!

Dari Anas ibn Malik r.a. bahwa Nabi bersabda:
Dengar oleh kamu kata raja kamu dan ikut oleh kamu akan dia, jikalau ada ia sahaya yang Habshi sekalipun!

Dari Sheikh Abdullah dalam “Bayan al Asma”:
Raja itu ibarat zat, dan menteri itu ibarat sifat. Maka zat dan sifat itu tiada ia berceraikeduanya.

Dari kitab “Bustanussalatin” (III):
Barangsiapa mati itu dan tiada diketahuinya dan tiada dikenalnya akan raja padamasanya itu maka ia akan mati dengan kematiannya yang durhaka!

Maka oleh Raja Urung Sunggal (Serbanyaman) dinyatakanlah petuah:
Dua sifat penting yang harus dimiliki oleh raja yakni sifat pemurah (kepada rakyat) dan berani. Sifat pemurah syarat penting kepada raja yang ingin melaksanakan keadilan. Keadilan jalanmenuju taqwa. Raja ibarat kayu besar di tengah padang. Akarnya ialah rakyat, batangnya ialahOrang Besar, tempat berteduh di hari hujan tempat bernaung di hari panas. Akarnya tempat duduk, batangnya tempat bersandar.

Setelah berbagai ucapan taat setia yang tiada berubah dari utusan penghulu adat di kampung-kampung, maka diserukanlah 3x dipimpin oleh Raja Urung Sunggal: “Daulat Tuanku!” (Daulat hanya ada pada diri Raja). Sejak itu terjalinlah suasana harmonisasi diantara Sultan dan rakyat Serdang. Dikenang oleh cerita rakyat akan Tuanku Umar Baginda Junjungan itu sebagai: “Raja yang memegang adat yang kanun adat pusaka turun-temurun adil, arif, bijak bersusun, pandai meneliti zaman beralun.”

Sejak saat itu, berdiri Kerajaan Serdang sebagai pecahan dari Kerajaan Deli. Demikianlah, akhirnya Kesultanan Deli terpecah menjadi dua, Kesultanan Deli dan Kesultanan Serdang.

Menurut adat Melayu, sebenarnya Tuanku Umar Johan Alamsyah Gelar Kejeruan Junjongan yang seharusnya menggantikan ayahnya menjadi Raja Deli, karena ia Putera Garaha (permaisuri), sementara Tuanku Pasutan hanya dari selir. Tetapi, karena masih di bawah umur, Tuanku Umar akhirnya tersingkir dari Deli. Tuanku Umar Johan pun membangun istananya di Kampong Besar, Sempali.

Melihat kesedihan yang dialami oleh abangndanya Tuanku Umar, Tuanku Tawar (Arifin) Gelar Kejuruan Santun, yang membuka negeri di Denai dan meluas sampai ke Serbajadi langsung menggabungkan wilayahnya kepada Kesultanan Serdang. Masa pemerintahan Tuanku Umar Baginda Junjungan dipenuhi dengan pembangunan kampung-kampung di sepanjang arah ke hulu sungai Serdang dan Sungai Ular dan Denai.

Tuanku Umar Johan memiliki 3 orang putra,yaitu: Tuanku Malim, Tuanku Ainan Johan Alamsyah, dan Tuanku Sabjana (Tengku Jana) atau yang sering dikenal sebagai Pangeran Kampung Kelambir.

1867 - Tuanku Umar Johan mangkat. Beliau mendapat gelar Marhom Kacapuri. Saat pemilihan penerus Kesultanan Serdang, Tuanku Malim sebagai putera pertama dari Tuanku Umar Johan menolak untuk diangkat menjadi Raja, sehingga dinobatkanlah adiknya Tuanku Ainan Johan Alamsyah sebagai Raja Serdang II. Dan Tuanku Sabjana diangkat sebagai Pangeran Raja Muda.

Untuk memperluas wilayah kekuasaannya, Raja Ainan pun menikahi Tuanku Puan Sri Alam anak Tuanku Nan Panjang ibni al-Marhum Raja Hitam, Yang di-Pertuan Perbaungan. Maka saat itu bergabunglah Kerajaan Perbaungan dalam naungan Kesultanan Serdang. Dari pernikahannya ini, Sultan Serdang memiliki 7 Orang Putra, Yaitu: Tengku Besar Zainal Abidin, Tengku Thaf Sinar, Tengku Tunggal glr.Tengku Sri Maharaja Kampong Durian, Tengku Andang glr.Pangeran Bandar Labuhan, Sutan Nur Sahmad, Tuanku Gadeh Angai dan 4 orang putri, yaitu: Tuanku Sri Ulam, Tuanku Jijah, Tuanku Upam. Kemudian Raja Ainan menikah dengan Merah Uda dari Kampung Paku melahirkan putra bernama Tengku Harum dan dari istri ketiga Sharifa mendapat seorang putri bernama Tengku Sharifah Nur Isah.

Dan untuk memperkuat kekuasaanya, maka Sultan Ainan Johan Alamsyah membentuk Dewan Orang Besar Berempat di Serdang yang berpangkat Wazir Sultan, yaitu:
  1. Raja Muda (gelar ini kemudian berubah menjadi Bendahara)
  2. Datok Maha Menteri (wilayahnya di Araskabu)
  3. Datok Paduka Raja (wilayahnya di Batangkuwis) keturunan Kejeruan Lumu
  4. Sri Maharaja (wilayahnya di Ramunia). 
Dewan Diraja, yang harus bersama Sultan memutuskan sesuatu.
Selain para pejabat istana di atas, Sultan juga dibantu oleh Syahbandar (perdagangan) dan Temenggong (Kepala polisi dan keamanan). Sultan Serdang menjalankan hukum kepada rakyat berdasarkan Hukum Syariah Islam dan Hukum Adat seperti kata pepatah, “Adat bersendikan Hukum Syara, Hukum Syara’ bersendikan Kitabullah”.

Pembentukan Dewan Orang Besar Berempat di Serdang ini, disebabkan Raja Urung Sunggal kembali bergabung dengan Kesultanan Deli, sementara Raja Urung Senembah dan Raja Urung Tanjung Merawa tetap menjadi raja di wilayah taklukan Serdang. Sultan Ainan Johan Alamsyah memperkokoh Lembaga Empat Orang Besar di atas berdasarkan fenomena alam dan hewan yang melambangkan kekuatan, seperti 4 penjuru mata angin (barat, timur, selatan, utara), kokohnya 4 kaki binatang dan azas Tungku Sejarangan (4 batu penyangga untuk masak makanan). Lembaga itu juga melambangkan sendi kekeluargaan pada masyarakat Melayu Sumatera Timur yaitu: suami, isteri, anak beru (menantu) dan Puang (mertua). Demikianlah, pembentukan lembaga di atas didasarkan pada akar budaya masyarakat Serdang sendiri. Selanjutnya, lembaga inilah yang berperan dalam upacara perkawinan maupun perhelatan besar.

1815 - Putera pertama Raja Johan Alamsyah, Tuanku Zainal Abidin pergi berperang membantu mertuanya yang sedang terlibat perang saudara merebut tahta Langkat. Dalam peperangan membela mertuanya tersebut, ia terbunuh di Pungai (Langkat) dan digelar Marhom Mangkat di Pungai. Untuk menggantikan putera mahkota (di Serdang disebut Tengku Besar) yang tewas, maka, adik putera mahkota, yaitu Tuanku Thaf Sinar Basyarshah kemudian diangkat sebagai penggantinya, dengan gelar yang sama: Tengku Besar.

Info: Kalau dilihat dalam catatan Kesultanan Langkat era awal abad ke 17 ini adalah masa kepemimpinan Tuah Hitam sebagai Sultan Langkat. Konflik yang terjadi pada masa itu dimana Kerajaan Siak Sri Inderapura dan Kerajaan Belanda menyerang Kerajaan Langkat sehingga membuat Kerajaan Langkat takluk. Tuanku Zainal Abidin adalah menantu dari Tuah Hitam, Dia menikahi Tengku Sri Deli adik dari Raja Nobat Shah Alam glr.Raja Bendahara Kejuruan Jepura Bilad Jentera Malai, Langkat

1817 - Raja Ainan Johan Alamsyah mangkat, Sebenarnya Tuanku Zainal Abidin atau putra beliau yaitu Tan Aman gelar Radja Moeda Sri Maharaja yang akan meneruskan tahta kesultanan Serdang, tetapi dalam adat Melayu Serdang, dikarenakan Tuanku Zainal Abidin saat meninggal belum menjadi Raja dan masih Tengku Besar, maka putra beliau tidak berhak menjadi raja. Akhirnya Dewan Majelis Orang Besar, yaitu Raja dan Kepala Negeri yang ditaklukkan, dan jajahan mengangkat Tuanku Sultan Thaf Sinar Basarshah sebagai Sultan Serdang dengan memakai gelar “Sri Paduka Duli Yang Maha Mulia Tuanku Thaf Sinar Basar Shah Sultan Kerajaan Serdang dengan Rantau, Jajahan, dan Takluknya”. Saat ini pula gelar Raja berganti menjadi Sultan.

Pada masa pemerintahan Sultan Thaf Sinar Baharshah ini, Kesultanan Serdang mengalami era jaya dengan menjadi kerajaan yang makmur dan sentosa karena perdagangannya. Nama Kesultanan Serdang begitu besar dan dikenal negeri-negeri lain sampai ke Semenanjung Tanah Melayu. Banyak kerajaan-kerajaan lain, seperti Padang, Bedagai, dan Senembah, yang meminta bantuan militer dari Kesultanan Serdang juga bersusur galur sampai ke Minangkabau.

1817 - Karena kemakmuran negeri Serdang maka Kerajaan Siak datang menyerang sehingga Sultan Sinar terpaksa mengakui hegemoni Siak.

Masa hidupnya Sultan Thaf menikah dengan Tuanku Sri Indra Kuala, Tuanku Ampuan,putri dari Y.A.M. Tuanku Sutan Usalli ibni al-Marhum Tuanku Nan Panjang, Yang di-Pertuan Raja Perbaungan dan memiliki 4 putra yaitu: Tengku Abdul Djalil, Tengku Mustafa, Tengku Abdul Madjid, Tengku Muhammad Basyaruddin Syaiful Alamsyah, T.H. Mat Yasin, Tan Siddik dan T.Muhammad Adil.
Dan 4 orang putri,yaitu: Tengku Ngah Salima, Tengku Rabiah, Tengku Putri Sharifa Aishah dan Tengku Mariam.

1823 - Johan Anderson, mengunjungi Serdang, ia mencatat:
  1. Perdagangan antara Serdang dengan Pulau Pinang sangat ramai (terutama lada dan hasil hutan).
  2. Sultan Thaf Sinar Basyar Syah (juga bergelar Sultan Besar) memerintah dengan lemah lembut, suka memajukan ilmu pengetahuan dan mempunyai sendiri kapal dagang pribadi.
  3. Industri rakyat dimajukan dan banyak pedagang dari pantai barat Sumatera (orang Alas) yang melintasi pegunungan Bukit Barisan menjual dagangannya ke luar negeri melalui Serdang.
  4. Baginda sangat toleran dan suka bermusyawarah dengan negeri-negeri yang tunduk kepada Serdang, termasuk orang-orang Batak dari Pedalaman.
  5. Cukai di Serdang cukup moderat.
Semua hal di atas bisa terjadi karena Sultan berpegang teguh pada pepatah adat Melayu. Di antara pepatah dan adat tersebut adalah:
  • secukap menjadi segantang, yang keras dibuat ladang, yang becek dilepaskan itik, air yang dalam diperlihara ikan;
  • genggam bara, biar sampai menjadi arang (sabar menderita mencapai kejayaan);
  • cencaru makan petang, bagai lebah menghimpun madu (meskipun lambat tetapi kerja keras maka pembangunan terlaksana);
  • hati Gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah (melaksanakan kerja pembangunan dengan berhasil baik bersama-sama).

Dalam perkembangannya, karena Sultan Thaf Sinar Basyar Syah ini amat berpegang teguh pada adat Melayu disertai sikap lemah lembut dan sopan, akhirnya banyak rakyat Batak di pedalaman yang masuk Melayu (Islam).


Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang
Basyaruddin Syaiful Alamsyah

Sultan Serdang IV 

1850 - Atas dasar jasa-jasanya, maka, ketika Sultan Thaf Sinar Basarshah mangkat di Kacapuri dan dimakamkan di kampung Besar, para Orang Besar dan rakyat Serdang memberikan penghormatan untuknya dengan gelar Marhom Besar. Beliau digantikan oleh putranya yang tertua, yaitu: Sultan dan Yang di-Pertuan Besar Serdang Basyaruddin Syaiful Alamsyah sebagai Sultan Serdang IV. Sementara adik-adiknya Tan Siddik diangkat menjadi Temenggong (Kepala polisi dan keamanan), Mat Yasin sebagai Pangeran Mangkunegara Batak Timur, Wakil Perbaungan dan Datuk Berlapan dan Tuanku Mustafa sebagai Raja Muda Sri Maharaja.

1854 - Aceh mengirim ekspedisi perang sebanyak 200 perahu perang untuk menaklukkan kesultanan Deli dan Langkat, Serdang berdiri di pihak Aceh. Deli, Langkat dan Serdang pun takluk pada saat itu. Sultan Aceh, Ibrahim Mansyur Syah mengangkat para Sultan - sultan menjadi wazir Aceh dan Sultan juga memberikan pengakuan berupa Mahor cap Sembilan.


Mahor Cap Sembilan (Sikureung)
Cap Sultan aceh

Dalam menjalankan pemerintahannya Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah didampingi oleh orang-orang besar, wazir, serta raja-raja taklukkan. Zaman pemerintahan Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah memang diwarnai banyak peperangan, baik yang datang dari dalam maupun luar. Selain berkonflik dengan Deli dalam persoalan perluasan wilayah, Serdang juga menghadapi gangguan dari penjajah Belanda.


1 Februari 1858 - Menurut The Anglo-Dutch Treaty tanggal 17 Maret 1824 Atau yang sering dikenal dengan London Treaty antara Inggris dengan Belanda menyatakan Sumatera diserahkan Inggris di bawah pengaruh Belanda. Pemerintah Hindia Belanda lalu mendekati Siak yang sedang lemah karena perang saudara, dan berhasil menekan Siak membuat perjanjian Kontrak Politik Siak-Belanda. Di dalam Kontrak itu Siak berada di bawah naungan Pemerintah Hindia Belanda. Siak mohon bantuan Belanda agar mengusir pengaruh Aceh pada kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur.

1862 - Sultan Basyaruddin dikenal sebagai sultan yang berani membawa bendera Aceh ketika menemui Netscher yang tiba di Kuala Serdang pada tanggal 16 Agustus 1862. Pengibaran bendera Aceh itu adalah wujud penolakannya terhadap pernyataan bahwa Serdang berada di bawah Siak.
Serdang pada waktu itu memang sedang tidak berada di bawah Siak, tetapi Aceh. Akan tetapi, pada akhirnya sultan harus terjerat dalam rantai kekuasaan kolonial. Ia harus menandatangani acte van erkenning. Hanya saja ketika harus membubuhi stempel pada tandatangannya, Sultan Basyaruddin tetap mencantumkan kata-kata sebagai “wazir” Sultan Aceh.

Hal ini membuat Netscher tersinggung dan mengancam akan menyerang Serdang dengan senjata yang ada di kapalnya. Akhirnya sultan bersedia menghapus kata-kata itu dan sebaliknya Belanda bersedia mengakui Sultan Basyaruddin sebagai Sultan Serdang dengan wilayahnya meliputi Percut, Denai, Perbaungan, Bedagai, dan Padang.

Hanya berselang waktu 9 bulan, yaitu di tahun 1863, ayah Sultan Sulaiman ini mulai menunjukkan sikap “menentang”. Ia kembali menjalin hubungan dengan Aceh. Menyambut dengan sukacita kedatangan pasukan Aceh yang dipimpin oleh Raja Cut Latief ke Rantau Panjang. Peristiwa inilah yang kemudian mendorong pemerintah kolonial mengirim Expeditie Tegen Serdang En Asahan yang tiba di Rantau Panjang pada tanggal 1 Oktober 1865.Asisten Residen Riau, E.Netscher memasuki Kuala Serdang. Belanda mengajakan perundingan dengan Sultan Basyaruddin. Artikel selengkapnya di Ekspedisi Militer Asahan & Serdang 1865


Istana Bogok Sultan Serdang 
Rantau Panjang, Pantai Labu, Deli Serdang 1728 - 1896


19 Januari 1865 - Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah menikah dengan  Tuanku Puan Zahrah anak dari Tuanku Musa Ainan Rahmatshah. Karena tidak mendapatkan keturunan maka Sultan Basyaruddin menikah lagi dengan Enzik Rata (Seorang perempuan dari keturunan biasa dari Pantai Cermin) maka lahirlah putera tunggal mereka bernama Tuanku Sulaiman Syariful Alamsah di Rantau Panjang Ibukota Kesultanan Serdang. Kemudain Sultan Basyaruddin juga memiliki 2 orang putri yaitu: Tengku Putri Amina dan Tengku Ketu.

1865 -  Serdang takluk, dan mendapat pengakuan dari Belanda seperti yang tercantum dalam Acte van Erkenning tertanggal 16 Agustus 1862 (Basarshah II, tanpa tahun:64). 4 Urung Serdang yaitu Denai, Perchut, Padang (Tebing Tinggi) dan Bedagai diserahkan Belanda kepada kesultanan Deli.

1871 - Pada awalnya eksploitasi perkebunan di daerah Serdang dilakukan oleh Firma Naeher & Grob yang merupakan usaha patungan antara Hermann Naeher, seorang pedagang dari Sisilia yang berkebangsaan Bavaria (Jerman) dengan Carl Furchtegott Grob, pendiri onderneming Helvetia yang berkebangsaan Swiss. Ditahun 1871 mereka mendapat kontrak tanah dari Sultan Serdang seluas 7.588 bahu. Tahun 1876 lahan mereka ditambah dengan sebidang tanah yang terletak di Deli.


Sulaiman Syariful Alamsyah 
Sultan Serdang V

1880 -Sultan Basyaruddin yang sempat bertahan selama 5 hari dapat dilumpuhkan. Semanjak kekalahannya itu, gerak gerik sultan dibatasi walaupun ia masih berkuasa. Di masa-masa itu sultan lebih banyak menghabiskan waktunya di mesjid, menjadi orang yang tawaddu‟ hingga akhir hayatnya (1882). 
Sultan Basyaruddin Syaiful Alamsyah wafat pada 7 Muharram 1279 Hijriah atau pada 20 Desember 1879 dengan gelar Marhom Kota Batu. Sang putra mahkota, Sulaiman Syariful Alamsyah diangkat menjadi Sultan Serdang V, masih sangat muda sehingga roda pemerintahan Kesultanan Serdang untuk sementara diserahkan kepada Tengku Raja Muda Mustafa (paman Sulaiman Syariful Alamsyah) sebagai wali sampai Sulaiman Syariful Alamsyah siap untuk memimpin pemerintahan.

Pengangkatannya Sulaiman ini tidak mendapat pengakuan dari pemerintah kolonial sehingga dianggap tidak syah. Memang pengangkatan Sulaiman tidak mengikuti aturan pemerintah kolonial, harus terlebih dahulu mendapat persetujuan pejabat Kolonial Belanda yang ada disitu. Hal inilah yang menyebabkan kedudukan Sultan Sulaiman dari tahun 1880 hingga 1887 seolah-olah tergantung hingga mempengaruhi pandangan dan sikap Sulaiman kelak terhadap kolonial.

1882 - Walaupun belum diakui oleh kolonial, langkah pertama yang dilakukan sultan dalam pemerintahannya adalah menuntut pengembalian beberapa daerah Serdang yang diambil Belanda. Pengambilalihan ini dilakukan Belanda pada masa pemerintahan ayahnya, sebagai hukuman karena dianggap telah “membangkang” terhadap pemerintahan kolonial. Meskipun usia Sulaiman belum genap 18 tahun, peristiwa yang terjadi pada tahun kedua pemerintahannya itu (1882) menandai dimulainya politik civil disobedience. Akhirnya Sultan Deli mengembalikan urung Denai kepada Sultan Serdang. Tapi pertikaian belum juga usai antara Deli dan Serdang.

Strategi politik civil disobedience dalam berbagai cara kemudian menjadi corak kebijakan pemerintahan Sultan Sulaiman di bawah kekuasaan kolonial. Tidak mengherankan kebijakan ini kelak kerap menjadi bahan perbincangan dikalangan pejabat kolonial di Serdang, malah dalam laporan serah terima jabatan kata-kata “agar berhati-hati bila berhubungan dengan sultan ini” selalu dituliskan. Disebutkan, beliau selalu melancarkan protes, mengemukakan keberatan dan tidak pernah membiarkan pemerintah Belanda terlalu jauh mencampuri urusannya.

1887 - Pengakuan resmi dari pemerintah kolonial Belanda atas penobatan raja baru di Serdang ini baru diberikan melalui Acte van Verband tanggal 29 Januari 1887. Pada era kepemimpinan Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah ini, pertikaian Serdang dengan Deli semakin memanas kendati beberapa solusi telah dilakukan untuk meminimalisir konflik, termasuk melalui hubungan perkawinan dan kekerabatan.


Duduk (kiri ke kanan) : T.Mohd Saleh (kejeruan Percut), Sulthan Sulaiman Syariful Alamsyah (Sultan Sedang V), T.Mohd,Nur (Pangeran Bendahara Serdang).
Berdiri (kiri ke kanan) : Sulthan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah (Sultan Deli X), T.Mohd.Hidayat (Bentara Deli), Tengku Otteman (Tengku Besar Deli/Sultan Deli XI), T.Harun Al Rasyid (Perdana Menteri Deli), T. Rajih Anwar (Tengku Mahkota Serdang)

1882 - Pemerintah kolonial melalui Residen Schiff melakukan politik adu domba dengan membagi Senembah menjadi 4 kejuruan :
  1. Daerah Medan Senembah dikepalai Wan Kolok.
  2. Daerah Patumbak dikepalai Wan Sulong Bahar.
  3. Daerah Sigaragara dikepalai Wan Sulong Mamat.
  4. Daerah Namu Surau dikepalai Sibayak Amat.
Pembagian ini tidak berjalan secara efektif, sehingga Belanda kemudian memodifikasi perjanjian tersebut dengan membagi 2 daerah Senembah menjadi :
1. Senembah Serdang, yang beribu kota di Sei Bahasa dengan daerahnya di Tadukan Raga/Sei Bahasa dan
Medan Senembah.
2. Senembah Deli, yang beribu kota di Patumbak dengan daerahnya Patumbak, Sigaragara dan Namu Surau.

1889 - Sultan Sulaiman memberikan perluasan wilayah Firma Naeher & Grob hingga  menjadi 31.563 bahu pada tahun 1889. (1 bahu 7.096,50 M²).

30 September 1889 - Karena tekanan finansial dan kerugian yang besar, maka secara resmi seluruh kebun dan asset milik Naeher & Grob berpindah menjadi milik Senembah Maatschappij (inbreng pada perseroan yang baru dibentuk) dengan Jacobus Nienhuys dan CW Janssen sebagai direksi, sedangkan yang menjadi komisaris yaitu JT Cremer, H Naeher, GE Haarsma, AL Wurfbain dan R Von Seutter ; dan mengelola kebun-kebun Tanjung Morawa, Tanjung Morawa Kiri, Sei Bahasa, Batang Kuis, Gunung Rinteh dan Petumbak. 

21 Maret 1891 -  Sultan Sulaiman menikah dengan Tengku Darwishah glr. Tengku Permaisuri, putri dari Raja Burhanuddin Pagaruyung.

1894 - Karena sering dilanda banjir istana Rantau Panjang, maka Sultan Sulaiman ingin memindahkannya. Controleur Belanda di Rantau Panjang mengajak Sultan untuk membangun ibukota bersama di Lubuk Pakam. Sultan dengan tegas menolak ajakan itu. Sultan lebih memilih Perbaungan sebagai ibukota baru Kesultanan Serdang. Penolakan Sultan Sulaiman ini menjadi hal yang kurang menguntungkan bagi kolonial karena letaknya Perbaungan yang jauh dari Lubuk Pakam membuat pengawasan terhadap sultan menjadi lebih sulit.


  Istana Darul Arif/ Keraton Kota Galuh, Perbaungan
(1896-1946)

1896 -  Akhirnya Sultan Sulaiman memindahkan kekuasaannya ke Simpang Tiga, Perbaungan. Dibangunlah Istana Darul Arif Kota Galuh dengan megahnya.


Lantai 2 Istana Kota Galuh

1898 - Untuk mensejahterakan rakyatnya, Sultan Sulaiman merubah sistem pertanian di Serdang. Bersawah memang bukan hal yang baru bagi warga Serdang. Di masa lalu, untuk memperoleh beras orang Melayu membuka huma. Hasil yang diperoleh dengan cara ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup petani itu sendiri.
Diawali dengan membuka areal persawahan di Rantau Panjang. Dipilihnya ibukota Serdang ini menjadi areal persawahan dikarenakan jumlah air berlimpah dan dinilai sesuai untuk sawah takung. Untuk mengubah kampung lama yang tergenang air itu menjadi areal persawahan raksasa, Sultan Sulaiman mengeluarkan biaya sebesar $.Str.10.000,- untuk berbagai keperluan, mulai dari penyediaan benih padi sampai pembangunan tanggul air. Sawah yang dipanen satu tahun sekali tidak dapat bertahan lama karena kerusakan hutan di hulu sungai Serdang akibat pembukaan perkebunan yang belum dapat ditangani dengan baik. Areal persawahan ini selalu disapu banjir tiap kali musim penghujan.

23 Maret 1900 - Karena tidak mendapatkan keturunan dari Tengku Darwishah, maka Sultan Sulaiman menikah dengan Enzik Kurnia Purba dan melahirkan Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar dan Tengku Putri Nazri
Tak berapa lama berselang, Sultan Sulaiman menikah lagi dengan Enzik Raya Purba dan melahirkan Tengku Sharial Sinar dan Tengku Fatimah Zahriah. Kemudian dari istri keempat Tuanku Hajjah Zahara binti al-Marhum Tuanku Ainan Rahmad Shah melahirkan Tengku Abunawar, Tuanku Lukman Sinar, Tengku Abu Kasim dan Tengku Zainabah.


Mesjid Sulaimaniyah Serdang
1901 - Selain Istana Kota Galuh, Sultan juga membangun sebuah mesjid yang dikenal sebagai Masjid Raya Sulaimaniyah. Mesjid ini didirikan seiring dengan dipindahkannya ibukota kesultanan Serdang dari Rantau Panjang (sekarang berada di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang) ke Istana kota Galuh Perbaungan (dulu Serdang). Nama masjid ini sendiri dinisbatkan kepada Sultan Sulaiman, yang membangunnya.Sultan Sulaiman juga membangun masjid dengan nama yang sama dengan mesjid Sulaimaniyah di Pantai Cermin dan sama sama masih eksis hingga kini.

1903 - Ide membuka pertanian sawah dengan sistem irigasi menjadi pilihannya. Untuk mewujudkan impiannya, sultan mendatangkan orang-orang Banjar dari Kalimantan. Mereka dapat didatangkan ke Serdang karena hubungan baik sultan dengan Sultan Banjar. Para petani Banjar ini dipimpin oleh Haji Mas Demang.

Untuk melancarkan proyek ini sultan menyediakan areal pertanian seluas 2000 bahu (14.192.000 m2) dengan biaya yang dikeluarkan mencapai $ 1.200.000. Dengan lahan dan dana yang disediakan oleh sultan inilah dibangun proyek persawahan irigasi di Perbaungan yang kemudian dikenal dengan istilah bendang. Ternyata sistem pertanian irigasi ini dapat memberikan hasil yang memuaskan bagi Kesultanan Serdang sehingga Serdang di kenal sebagai daerah lumbung padi untuk kawasan Residen Sumatera Timur.

Hasil padi yang diperoleh disimpan di gudang padi istana di bawah pengawasan seorang kepala gudang, sedangkan beras disimpan tersendiri di gudang yang berbeda. Cara-cara seperti ini, membuat persediaan padi kerajaan tidak pernah habis.

Rakyat yang membutuhkan padi dapat memperolehnya secara gratis. Mereka hanya datang menghadap sultan, menyampaikan keinginannya dan dengan secarik surat dari sultan beras dari gudang akan berpindah ke tangan mereka. Setiap orang hanya diizinkan memperoleh beras sebanyak satu kaleng (15 kg) saja.

1907 - Kerajaan Serdang diwakili Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah mengikat Politiek Contract dengan pemerintah kolonial yang diwakili Residen Pantai Timur Sumatera Jacob Ballot dengan ratifikasi Gubernur Jenderal Ir. De Graeff, yang mana pada kontrak tersebut mengatur antara lain :
  1. Meminjamkan tanah kepada Hindia Belanda dengan hukum Hindia Belanda , dan berjanji untuk setia dan patuh terhadap penyerahan tersebut.
  2. Tanah yang dipinjamkan meliputi kawasan : Serdang, Serdang Senembah dengan Tandjong Moeda, Timor Batakdoesoen, Serbadjadi, Perbaoengan, Denai. 
  3. Kewenangan Sultan dan negerinya mengurus sendiri internalnya. Sultan dan rakyatnya tidak boleh diserahkan kepada negara lain, kecuali terhadap Pemerintah Hindia Belanda. 
  4. Dari Politiek Contract ini Sultan menerima pendapatan tetap sebesar Fl.50.850,- /tahun. Sedangkan pendapatan tidak tetap diperdapat dari Rantau Pandjang, Denai dan Pantai Cermin Perbaungan.
1918 -  Sejak lahir Tengku Rajih Anwar memang terus menjadi pewaris semu, baru tanggal 8 Oktober Gubernur Jenderal Hindia Belanda menobatkan beliau menjadi Tengku Besar.

22 Agustus 1923 - Sultan Sulaiaman mendapat mendali penghargaan The Officer of the Order of Orange-Nassau dan tanggal 26 Juli 1927, beliau menerima penghargaan Mendali Knight order of the Netherlands Lion.

1932 -  Tengku Besar Rajih Anwar dinobatkan sebagai Tengku Putera Mahkota. Rajih Anwar banyak membantu Ayahndanya dalam mengurusi pemeritahan. Rajih diangkat sebagai Direktur Midden Serdang Landbouw Maatschappij dari tahun 1920 hingga 1946.

13 April 1932 - Tengku Abu Nawar lahir di Kraton Kota Galuh, Perbuangan Bandar Setia,

27 Juli 1933 - Tengku Luckman Sinar lahir di Istana Keraton Kota Galuh Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.

Jembatan Gantung di Timbang Deli Lubuk Pakam 1860

1937 - Sultan Sulaiman dengan anggaran terbatas namun cukup untuk memulai pekerjaan besar; meluruskan aliran Sungai Serdang sepanjang tujuh kilometer. Beliau sendiri yang meletakkan pancang pertama dan membakar sumbu dinamit agar tanggul penahan meledak hingga dapat mengaliri alur Sungai Serdang yang sudah diluruskan itu. Serdang kanaal ini menyelamatkan beberapa kampung, lebih dari 10.000 hektar persawahan di sekitarnya dan mengairi sawah-sawah lain di tepian sungai yang dahulu dapat dilalui kapal api dari Selat Melaka ini. Manfaat kanal ini juga dirasakan oleh perkebunan di sekitarnya, sebab itu beliau tidak pernah segan „memaksa‟ pengelola kebun termasuk Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) untuk turut memberi kontribusi yang pantas.

3 Maret 1946 - Wilayah Sumatra Timur, termasuk Serdang, dilanda situasi yang mencekam terjadi peristiwa menggegerkan yang dikenal sebagai “Revolusi Sosial” di mana terjadi penangkapan terhadap raja-raja yang ada di Tanah Karo oleh orang-orang komunis. Raja-raja dan kaum bangsawan itu oleh kaum kiri dianggap sebagai pengkhianat karena dulu mengabdi kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda. Menurut buku Kronik Mahkota Kesultanan Serdang (2003) yang ditulis oleh Pemangku Adat Kesultanan Serdang Tuanku Luckman Sinar Basarshah II, di Serdang keadaan sedikit berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain.

Berkat adanya dukungan yang positif dari Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah terhadap kaum pergerakan dan perasaan anti Belanda yang telah dikenal umum sejak zaman kolonial Belanda serta sokongan penuh Kesultanan Serdang atas berdirinya negara Republik Indonesia sejak tahun 1945, maka tidak terjadi aksi penangkapan, pembunuhan, atau penjarahan di Serdang. Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah tidak menyandarkan diri kepada pasukan Sekutu karena banyak kerabat dan para bangsawan Serdang yang dianjurkan menempati posisi di dalam struktur angkatan bersenjata Republik, partai-partai politik yang berhaluan Islam dan nasionalis.

Oleh karena itu, ketika terjadi “Revolusi Sosial” 3 Maret 1946, diadakanlah suatu perundingan antara Kapten Tengku Nurdin (Komandan Batalion III TRI di Medan) dengan Tengku Mahkota Serdang dan para tokoh adat Kesultanan Serdang. Dari perundingan itu kemudian diambil keputusan bahwa Kesultanan Serdang menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada TRI yang dalam hal ini bertindak mewakili pemerintah Republik Indonesia (Basarshah II, 2003:64).

4 Maret 1946 - Sebagai tindak lanjut atas kesepakatan tersebut, maka diutuslah Jaksa Tengku Mahmuddin dan Panitera Tengku Dhaifah atas nama Kesultanan Serdang untuk secara resmi menyerahkan administrasi pemerintahan kepada pihak TRI atas nama pemerintah Republik Indonesia yang dipersatukan oleh Komite Nasional Indonesia wilayah Serdang dan sejumlah wakil organisasi masyarakat serta organisasi politik lainnya di kantor Kerapatan di Perbaungan. Timbang terima yang mulai berjalan pada 4 Maret 1946 ke segenap pelosok wilayah Serdang itu agaknya merupakan sebuah peristiwa unik yang berlaku untuk pertamakalinya di Indonesia. Sejak saat inilah Kesultanan Serdang meleburkan diri sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai wujud komitmennya terhadap kemerdekaan dan berdirinya negara Indonesia yang berdaulat.


Putera Mahkota Rajih Anwar

13 Oktober 1946 - Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah meninggal dunia dalam usia 80 tahun dan dikebumikan dengan upacara militer di makam raja-raja di sebelah Masjid Raya Sulaimaniyah di Perbaungan yang masih termasuk di dalam wilayah administratif Serdang. Beliau digelar Marhom Perbaungan. Sebagai pemegang tahta Serdang ke VI sepeninggal Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah adalah Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar. Namun, dikarenakan oleh situasi politik dan keamanan di Serdang dan umumnya di Sumatra Timur yang belum stabil, maka penabalan mahkota kesultanan kepada Tuanku Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar hanya sebagai kepala adat.
Di samping itu, Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar sendiri tidak bersedia dinobatkan sebagai Sultan Serdang karena merasa masih trauma dengan serentetan kejadian tragis atau “Revolusi Sosial” yang terjadi di tahun 1946 itu.

22 Desember 1952 - Tengku Luckman Hakim Sinar menikah dengan Tengku Daratul Qamar Binti Tengku Muhammad Hidayat glr. Tengku Suri, putri dari Tengku Muhammad Hidayat Ibnu Tengku Muhammad Haji Saleh, Tengku Kejuruan Paduka Raja, Perchut, dan istrinya, Tengku Izah putri Sri Paduka Tuanku Sultan Amaluddin II Perkasa' Shah, Sultan Deli.


Pernikahan Abu Nawar dan Tengku Mulfi - photo koleksi: T.Harris AS

11 Juli 1953 - Tuanku Abu Nawar menikah di Istana Maimoon, Medan, dengan Tengku Mulfi putri dari Sri Paduka Tuanku Sultan Otteman II Perkasa 'Alam Shah ibni al-Marhum Sultan Amaluddin al-Sani Perkasa Alam Shah, Sultan Deli dan memiliki 3 Putra dan 3 putri: yaitu: Tengku Sulaiman Amaluddin glr. Raja Muda, Tengku Achmad Thala'a glr. Tengku Pangeran Sri Mahkota dan Tengku Harris Abdullah sedang putrinya: Tengku Salimat ul-Mardiah, Tengku Hanizah dan Tengku Melfira.  

28 Desember 1960 - Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar wafat di Medan dan dimakamkan di Mesjid Raya Sulaimaniyah, Perbaungan. Setelah mangkatnya Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar, masyarakat adat Serdang tidak lagi mempunyai kepala adat selama masa-masa selanjutnya dan posisi ini mengalami kevakuman selama lebih kurang 35 tahun.

Semasa hidupnya Rajih Anwar menikah 2 kali, dengan istri pertamanya Enzik Nelli, beliau memiliki putra, yaitu: Tengku Ziwar, Tengku Athar dan 5 orang putri: Tengku Nef Dewani, Tengku Romani, Tengku Nazli, Tengku Sita Sharitsa, Tengku Zahiar.
dan dengan istri keduanya: Tengku Lailan Shahfinah binti al-Marhum Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad, Tengku Mas memiliki 2 putra: Tengku Peter Azwar, Tengku Evert Anhar dan  2 orang putri: Tengku Cornelia, Tengku Lydia.

20 Juli 1962 - Putra Tuanku Abunawar lahir Tengku Akhmad Thala’a ( Ameck ) di Medan.


Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam 
Pemangku adat Serdang VII

30 November 1996 - Kerapatan Adat Negeri Serdang mengadakan sidang serta memutuskan bahwa Pemangku Adat Serdang dipilih dan ditetapkan dari putra-putra almarhum Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah yang masih hidup. Dari sidang-sidang tersebut kemudian diputuskan Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam Al-Haj, putra ketiga Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah dan pemegang mahkota Kesultanan Negeri Serdang yang ke VII sebagai Pemangku Adat Negeri Serdang dan Ketua Kerapatan Adat Negeri Serdang.

5 Januari 1997 - Penabalannya Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam Al-Haj dilakukan dalam upacara adat di Gedong Juang 45 di Perbaungan. Namun, kebangkitan Kesultanan Serdang ini tidak bisa lepas dari himpitan sistem politik negara. Institusi kesultanan semata-mata dilihat dari perspektif politik. Keberadaan Kesultanan Serdang tidak lagi dipahami sebagai representasi perilaku budaya dan adat masyarakatnya. Oleh karena itu, aktivitas kesultanan dibatasi hanya sebagai institusi istiadat saja. Dalam penyelenggaraan istiadat pun “diarahkan” tidak menjadi perenggang masyarakat dengan akar budayanya, apalagi unsur budaya yang berhubungan dengan tradisi kesultanan, khususnya tradisi kesultanan yang terdapat di Sumatra Timur (Basarshah II, 2003:71).

Tuanku Abu Nawar mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah Belanda HLS, and MULO di Medan, HIS dan Sekolah Grafika Jakarta. Beliau aktif memimpin berbagai perusahaan keluarga Kesultanan Serdang, antara lain: Direktur di CV. PUTRI, Chair di PT. PPP Serdang Tengah (Dir. 1971-2002), PT. PPP Serdang Hilir, PresDir PT. Blumei, dan lain-lain. Jabatan terakhir sebelum diangkat menjadi Pemangku Adat, beliau menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Deli Serdang.


Tuanku Lukman Sinar Bhasarshah II,SH
Pemangku Adat Kesultanan Serdang VIII
 



28 Januari 2001 - Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam Al-Haj mangkat karena sakit dan dikebumikan di Makam Raja Diraja di samping Masjid Raya Sulaimaniyah, Perbaungan. Sebagai penerus keberadaan Kesultanan Serdang setelah Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam Al-Haj wafat adalah Tuanku Luckman Sinar Baharshah II. Sebelum jenazah Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam Al-Haj diberangkatkan pada tengah malam tanggal 28 Januari 2001, sesuai dengan Adat Melayu “Raja Mangkat Raja Menanam”, dimusyawarahkanlah mengenai pengganti Tuanku Abunawar Sinar Syariful Alam Al-Haj dan anggota sidang dengan suara bulat menyepakati bahwa Tuanku Luckman Sinar Baharshah II (waktu itu bergelar Temenggong Mangkunegara Serdang) sebagai Pemangku Adat Serdang berikutnya.


Persembahan Kerbau dari masyarakat Serdang Hulu
pada saat penobatan Tuanku Luckman Sinar Baharshah II
sebagai pemangku Adat Serdang

Tuanku Luckman Sinar & Permaisuri,
Tengku Hj. Daratul Qamar
glr.Tengku Suri Serdang
2 Juni 2002 - Upacara penobatan Tuanku Luckman Sinar Baharshah II selaku Pemangku Adat Kesultanan Negeri Serdang yang ke VIII digelar di Perbaungan. Tengku Luckman Sinar Basarsah II SH dinobatkan sebagai Pemangku Adat Kesultanan Serdang atau dirajakan dengan dibacakannya "Ulun Janji" oleh Kepala Urung Serbanyaman: Datuk Sayuti Ikhsan gelar Datuk Sri Indera Pahlawan Diraja. Sementara Tengku Pangeran Sri Mahkota Achmad Tala'a bin Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah di angkat sebagai Timbalan Kepala Adat.

Acara ini dihadiri 6.000 orang utusan dari seluruh Serdang dan 2.000 orang undangan dari kalangan pemerintah serta empat negara. Tuanku Luckman Sinar Baharshah II yang memegang tahta adat Kesultanan Negeri Serdang hingga sekarang menjadi penegas bahwa Kesultanan Serdang masih eksis sampai hari ini.




Tengku Luckman Sinar pernah bersekolah di SR,MULO dan HIS, SM dari USU Medan 1962, dan SH dari Universitas Jayabaya 1969. Beliau pernah mengikuti pelatihan militer 1963-1964, Dosen di Fakultas Sains dan Hukum Univ, Jayabaya 1969-1972, Sekretaris Dewan Kesenian Medan 1972-1975, kolumnis Harian"Waspada" Medan 1987-2011.

Beliau seorang Konservasionis, sejarawan dan penulis begbagai buku tentang sejarah Melayu, seperti: "Batu Kecil: Tuanku Seri Paduka Gocah Pahlalawan" (1959), "Sari Sejarah Serdang" (1971), "Silsilah Kesultanan Deli dari Istana Maimun" (1975), "Sejarah Melayu di Sumatera Keseultanan Timur '( 1985), "Perang Sunggal" (1987), "The History of Medan di zaman dahulu" (1996), "Revolusi Nasional dan Revolusi disebut Sosial di Sumatera Timur" (1997), "Teromba Silsilah Radja2 daripada Bangsawan Serdang "(2001)," Timur Sumatera Kebudayaan Melayu "(2002), dan lain-lain.


Menkes RI Siti Fadilah Supari mendapat
gelar Datuk Sri Utama Sejahtera Bangsa


6 Januari 2008 - Menteri Kesehatan RI DR. Dr. Siti Fadilah Supari menerima gelar kehormatan adat melayu, Datuk Sri Utama Sejahtera Bangsa, dari kesultanan Negeri Serdang. Pemberian gelar kehormatan dilakukan dalam sebuah upacara adat dikawasan wisata Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.
Upacara dipimpin oleh Pemangku adat Kesultanan Serdang Tuanku Lukman Sinar Basarsyah II, yang diawali dengan pertunjukan tari menunjung duli, tarian penghormatan rakyat serdang kedapa sultan mereka. Tuanku Lukman Sinar Basarsyah II, yang adalah putra Sultan Serdang V Tuanku Sultan Sulaiman Syaiful Alamsyah kemudian menyematkan bintang raja, menyilangkan selempang kebesaran dan menyerahkan keris pusaka kepada Menteri Kesehatan.
Tuanku Lukman Sinar Basarsyah II, mengatakan gelar tersebut diberikan karena sebagai menteri makan Siti Fadilah telah melakukan banyak hal untuk membantu rakyat Serdang melalui program Askeskin, Desa siaga dan pemberdayaan pesantren. ”setelah mencermati, menilik dan mendengar pendapat dari berbagai pihak gelar ini diberikan dan akan tanggal dengan sendirinya kalau yang bersangkutan tidak lagi menjalankan tanggungjawabnya,” katanya. Uapcara tersebut diakhiri dengan upacara tepung tawar dimana pemangku adat menaburkan beras dan bunga kepada penerima gelar adat.

20 Januari 2009 - Tuanku Luckman Sinar dianugerahkan dari Anugerah Melayu Online 2009 dalam kategori Sejarawan yang Konsisten Mengkaji Sejarah Kebudayaan Melayu di Gedung Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.


Tuanku Luckman Sinar Basarsyah II melantik tokoh-tokoh Budaya Serdang

27 Juli 2009 - Tuanku Luckman Sinar Basarsyah II memberikan gelar kepada tokoh-tokoh budaya dan kekerabatan Kesultanan Serdang di Convetion Hall Hotel Tiara Medan. Mereka yang diberi gelar, yakni:
  1. H.Tengku Nurdin glr.Pangeran Kesuma Negara - Sesepuh Kesultanan Serdang
  2. Dr. Syafii Ahmad, MPH glr.Dato' Sri Wangsa Diraja - Penasehat utama
  3. Prof.Dr.Ir.Djohar Arifin glr.Dato' Pendita Indera Wangsa - Pembina Olahraga Bangsa
  4. Drs.Sakhyan Asmara, MSP glr Dato' Wangsa Diraja - Pembina Gerakan Pemuda Bangsa
  5. Drs.Zainuddin Mars glr.Dato' Indera Muda - Pembina Adat Budaya Serdang
  6. Prof.Suwardy MS glr.Dato' Sastra Negara - Pembina Sejarah Melayu
  7. Tengku Yose Rizal,SE glr.Pangeran Setia Pahlawan - Pendekar Kesultanan Serdang
  8. OK.Saidin, SH, M.Hum glr. Dato' Dharma Wangsa - Pembina Tanah Adat serdang
  9. Wan Iwan Dzulhami, SH glr. Dato' Bijaya Sura - Pembela Pemuda Melayu Serdang
  10. Drs.Syarifuddin Rosa glr. Dato' Wira Pahlawan - Pembela Tanah Adat Serdang
  11. Drs.Shafwan Hadi Umry glr. Dato' Amar Wangsa - Pembina Sastra Melayu Serdang
  12. Drs.Erwin Nurdin Pelos glr. Dato' Arya Bupala

Tuanku Luckman Sinar Baharshah II juga memberi gelar kepada anak-anaknya. Pada putranya, yaitu: Tengku Lukman Basharuddin Shukri [Basyaruddin Shouckry] glr. Raja Muda Indera di-Raja, dan putrinya Dr.Tengku Rabitta Cherise [Cherrys] glr.Tengku Putri, Tengku Silvana Khairunnisa [Chairuanissa][Professor Dr. Tengku Silvana Sinar] glr. Tengku Puan Paramaswari, Tengku Eliza Nurhan glr. Tengku Puan Chandra Kirana, Dr.Tengku Thirhaya Zain glr. Tengku Puan Chandra Devi dan Tengku Myra Rozanna [Tengku Mira Sinar] glr.Tengku Puan Putri Bongsu.

13 Januari 2011 -  Dunia Melayu mengalami duka yang mendalam karena kehilangan seorang sejarawan otodidak yang menguasai dan memiliki sumber-sumber sejarah dari Belanda, khususnya tentang Sumatera Utara dan dunia Melayu. Tuanku Luckman Sinar Basarshah II. Sultan Serdang ini mangkat pukul 20.05 di RSSime Darby, Subang Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia. 
Beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Raya Sulaimaniyah, Perbaungan, yang dibangun oleh Sultan Serdang. Makam almarhum Tuanku Luckman Sinar Basarshah II berdekatan dengan makam sang ayah, Sultan Sulaiman Shariful Alamshah.
Sejarawan sekaligus budayawan Melayu adalah dua identitas yang melekat pada Tuanku Luckman Sinar. Dua identitas itu sangat jelas terlihat dalam berbagai karya tulis, pemikiran, dan aktivitas beliau. Maka layaklah jika sederet prestasi dan beragam penghargaan, mengisi lembaran kisah kehidupannya.
Jenazah Beliau dimakamkan tanggal 14 Januari 2011 diberangkatkan dari rumah duka Jalan Abdullah Lubis medan.




Setelah Tuanku Luckman Sinar Basarsyah II wafat diangkatlah Timbalan Kepala Adat Sri Mahkota Serdang Tuanku Achmad Thala'a Sinar Syariful Alamsyah meneruskan sebagai Pemangku Adat Serdang IX.

8 November 2011 - Sultan Serdang V Tuanku Sulaiman Syariful Alamsyah mendapat kehormatan pemerintah Indonesia dengan menerima Bintang Mahaputra Adipradana sekaligus diangkat sebagai Tokoh Pejuang Dari Sumut.


Penghargaan ini diserahkan Prof Hj T Silvana Sinar kepada Sultan Serdang IX Tuanku Achmad Thala'a


Penghargaan ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada keluarga Sultan Serdang V, Prof Hj T Silvana Sinar di Jakarta, Selasa (8/11). Penghargaan ini selanjutnya dibawa ke Sumut Rabu (9/11) yang mendapat sambutan antusias dari masyarakat Sumut.

Penghargaan ini diserahkan Prof Hj T Silvana Sinar kepada Sultan Serdang IX Tuanku Achmad Thala'a di VIP Room Bandara Polonia. Sultan Serdang IX pun menyerahkan penghargaan ini secara simbolis kepada Bupati Serdang Bedagai diwakili Wakil Bupati Serdang Bedagai Ir Sukirman dan Bupati Deli Serdang diwakili Kepala Kesbanglinmas Deli Serdang H Eddy Azwar.

Disini juga dilaksanakan tepung tawar kepada Prof Hj T Silvana Sinar antara lain dilakukan Bupati Serdang Bedagai, Bupati Deli Serdang, pengurus PB Mabmi H Tengku Yos Rizal, tokoh Kesultanan Serdang, tokoh sastra Sumut dan undangan lain. Juga dilaksanakan kegiatan ramah tamah.

6 komentar:

  1. Alhamdullillah ...,
    Senang membaca biografi dr Alm Ayahanda luckman sinar yang dari dahulu dekat dengan ayahanda Tengku Irwan Hassim.

    BalasHapus
  2. Ho oh uyut sy wafat sebelum jadi raja hiks..:)

    BalasHapus
  3. 23 Maret 1900 - Karena tidak mendapatkan keturunan dari Tengku Darwishah, maka Sultan Sulaiman menikah dengan Enzik Kurnia Purba dan melahirkan Tengku Putera Mahkota Rajih Anwar dan Tengku Putri Nazri.
    Tak berapa lama berselang, Sultan Sulaiman menikah lagi dengan Enzik Raya Purba dan melahirkan Tengku Sharial Sinar dan Tengku Abunawar dan Tengku Fatimah Zahriah. Kemudian dari istri keempat Tuanku Hajjah Zahara binti al-Marhum Tuanku Ainan Rahmad Shah melahirkan Tuanku Lukman Sinar, Tengku Abu Kasim dan Tengku Zainabah.

    mohon maaf, keterangan diatas ada sedikit kesalahan, yang benar adalah :
    Sultan Sulaiman menikah lagi dengan Enzik Raya Purba dan melahirkan Tengku Sharial Sinar dan Tengku Fatimah Zahriah.

    Kemudian dari istri keempat Tuanku Hajjah Zahara binti al-Marhum Tuanku Ainan Rahmad Shah melahirkan Tuanku Abunawar Sinar, Tuanku Lukman Sinar, Tengku Abu Kasim dan Tengku Zainabah.

    BalasHapus
  4. 12 Juni 2002 - Upacara penobatan Tuanku Luckman Sinar Baharshah II selaku Pemangku Adat Kesultanan Negeri Serdang yang ke VIII digelar di Perbaungan. Tengku Luckman Sinar Basarsah II SH dinobatkan sebagai Pemangku Adat Kesultan Serdang pada 12 Juni 2002 oleh Sultan Deli Ke XII, Tuanku Azmy Perkasa Alam. Sementara Tengku Pangeran Sri Mahkota Achmad Tala'a bin Sultan Abu Nawar Sharifu'llah Alam Shah di angkat sebagai Timbalan Kepala Adat.

    Keterangan tersebut diatas juga ada kesalahan karena Sultan Serdang tidak dinobatkan oleh Sultan Deli, mohon diperhatikan karena ini adalah keterangan yang memiliki kesalahan yang fatal

    Sultan Serdang dinobatkan pada tanggal 2 Juni 2002
    Sultan Serdang dinobatkan atau dirajakan dengan dibacakannya "Ulun Janji" oleh Kepala Urung Serbanyaman Datuk Datuk Sayuti Ikhsan gelar Datuk Sri Indera Pahlawan Diraja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih Bung Yoel Andhana telah memberikan masukan kepada kami tentang sejarah kesultanan Serdang,
      Maaf apabila redaksi kami ada yang salah dan juga telat untuk perbaharuan postingan.
      Sekali lagi terima kasih sebesar-besarnya

      Hapus

Translate