Tampilkan postingan dengan label 1863 - 1866. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1863 - 1866. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Mei 2013

1865 Onderneming Saint Cyrus

Jalan menuju Perkebunan Saint Cyrus 1892
Tanggal 18 Maret 1865, Sebuah perusahaan besar di Batavia yaitu, Geo Wehry & Co. mendapat konsesi  no.18 dengan luas 2000 bidang tanah dengan akhir kontrak tanggal 18 Maret 1947. 
Onderneming Saint Cyrus berada di Landskep XII kotta, Afdeling Deli yang berbatas dengan Bekala, Arnhemia, Two Rivers dan Perkebunan Petani.

Para Planters Ond.St.Cyr 1919
Pada catatan tahun 1881, J.van Der Sluys menjadi administrator pertama sekali. Pada tahun ini onderneming St.Cyrus sudah menghasilkan Fl.194.601 dari hasil budidaya tembakau, kopi dan coklat.

Pada tahun 1883, Onderneming ini dipegang oleh administrator C.F.Kufahl. Hasil yang diperoleh pada tahun ini sebanyak Fl.106.000 dengan 208 orang jumlah kuli kotrak dan 28 orang kuli lokal.

Pada tahun 1889, Onderneming ini diambil alih oleh Deli Langkat Maatschappij. Terjadi perubahan lahan konsesi., Lahan 500 bidang berakhir pada tanggal 14 Desember 1948 dan 1500 bidang tanah berakhir pada tanggal 10 Mei 1950. Hasil yang diperoleh pada tahun ini sebanyak Fl.480.000, dengan 540 orang jumlah kuli kontrak dan 60 orang kuli lokal.

Pada tahun 1891, onderneming ini dipegang oleh L.Neis sebagai administrator. Terjadi penambahan luas lahan kontrak menjadi 2400 bidang dengan kontrak berakhir pada tanggal 21 Juni 1949. Hasil yang diperoleh pada tahun ini mencapai Fl.430.136. Kuli kontraknya terdiri dari Cina: 538 orang, Jawa 205 orang dan Kling 36 orang dan Kuli lokalnya dari suku Batak sebanyak 40 orang.

Pada tahun 1893, Onderneming ini kembali dipegang oleh C.F.Kufahl. Sudang 325m2 dari 7200m2 lahan yang telah digarap. Hasil yang diperoleh pada tahun ini mencapai 2221 pikol tembakau. Kuli kontraknya terdiri dari Cina: 380 orang, Jawa 135 orang dan Kling 35 orang.



Pada tahun 1919, St.Cyrus mendapat tambahan lahan lagi menjadi 2893 bidang tanah konsesi. Hasil yang diperoleh pada tahun ini sebanyak 3010 bidang dengan jumlah kuli mencapai 678 orang.


Para Ondernemer & Admisnistrator Onderneming St.Cyrus
TahunOndernemerAdministrator
1865Geo Wehry & Co., J.Van der Sluis
1883Deli Langkat MaatschappijC.F. Kufahl
1889Deli Langkat MaatschappijC.F. Kufahl
1891Deli Langkat MaatschappijL.Neis
1892Deli Langkat MaatschappijE.C.Rohlack
1893Deli Langkat MaatschappijC.F. Kufahl(1893)
1896Deli Langkat MaatschappijC.Th.J.E.Kufahl(1896)

Rabu, 23 Januari 2013

Cats Baron De Rots - Kontrolir Pertama di Labuhan

Rumah Kontrolir Cats Baron di Labuhan Deli

Setelah Kesultanan Deli, Langkat mengakui Kesultanan Siak dan Hinda Belanda, serta takluknya Kesultanan Serdang, Asahan, Percut, Padang & Denai pada tahun 1865, maka pada tahun 1866 oleh Gubernur Hindia Belanda dibentuklah kontrolir di Labuhan yang bertugas untuk mengontrol keamanan dan stabilitas di Tanah Deli. Dilantiklah Cats Baron De Rots sebagai Kontrolir Pertama di Labuhan. 
Kontrolir ini berada dibawah Keresidenan Riau.
Controleur mempunyai banyak tugas; dia adalah hakim di pengadilan lokal dan langsung berhubungan dengan kepala kampung; Sultan sultan dan Radja radja. Controleur harus lapor sama assistent resident dan dia terakhir lapor sama resident. Pejabat pejabat ini telah mempersiapkan diri dengan baik dapat berbahasa lokal, mengerti hukum adat dan sistem hukum.

Selasa, 22 Januari 2013

1865 Ekspedisi Militer Asahan & Serdang


Pada bulan Mei 1862 Belanda mengirim seorang pegawai tingginya yang bernama Raja Burhanuddin ke Sumatera Timur. Raja Burhanuddin adalah putra Raja Uyang bin Sultan Cagar Pagaruyung. Menurut laporan Raja Burhanuddin, beberapa negeri di Sumatera Timur bersedia dilindungi Belanda, kecuali Asahan dan beberapa negeri lainnya mereka menentang, bahkan di Asahan berkibar bendera Inggris (yang saat itu satu-satunya Kesultanan yang berani mengibarkan bendera Inggris di Wilayah Hindia Belanda).

Berdasarkan laporan Asisten Residen Riau, E. Netscher, Belanda mempersiapkan angkatan perang dari Bengkalis pada tanggal 2 Agustus 1862. Pembesar-pembesar Siak diikutsertakan untuk dikonfrontasikan dengan raja-raja di Sumatera Timur. Beberapa negeri seperti Panai, Bilah, dan Kotapinang berhasil ditundukkan. Sementara itu ekspedisi Belanda berhasil memasuki Kuala Serdang. 
Sultan Basyaruddin mencoba menemui ekspedisi itu dengan mengibarkan bendera Aceh dan bertindak selaku wazir Sultan Aceh atas dasar pengangkatannya dari Aceh. Perundingan antara Belanda dengan Sultan Basyaruddin dilakukan di kapal Belanda. Dengan paksaan Belanda, Sultan Basyaruddin menandatangani perjanjian yang ditetapkan tanpa ada kontrasain dari orang-orang besarnya. Perjanjian tersebut antara lain menyebutkan bahwa Belanda turut mengakui jajahan Serdang, yaitu Denai, Percut, Padang, Perbangunan, dan Bedagai. 
Pada tanggal 21 Agustus 1862, Residen Riau E.Netscher bersama Assisten Siak: Mr.Arnold dengan mengendarai kapal Reinier Claasen memasuki Kuala Deli dan disambut oleh Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam. Sultan Mahmud menolak mengakui kedaulatan Siak atas Deli. Hal ini karena Siak tidak membantu Deli sejak masa pemerintahan ayahnya, Sultan Osman Deli, ketika diserang Aceh pada tahun 1854. Netscher berhasil menemukan jalan keluar sehingga Sultan Deli bersedia menandatangani pernyataan tunduk kepada Belanda dengan kalimat yang berbunyi “Mengikut pada negeri Siak bersama-sama bernaung pada Gubernemen Belanda”.

Perundingan antara Netscher dan Sultan Mahmud berjalan lancar berkat bantuan ipar Sultan dan sekaligus mufti kerajaan, yaitu: Said Abdullah Ibnu Umar Bilsagih. Pangeran Musa dari langkat tidak ada masalah karena dia pun dibesarkan di Istana Siak. Sementara Kerajaan Asahan dan Serdang tidak mau tunduk kepada kerajaan Siak dan malah berkoalisi kepada Kerajaan Aceh. bahkan dipantai Asahan, mereka memasang bendera-bendera Inggris.

Tanggal 19 September 1862, Netscher kembali ke Bengkalis yang pada saat itu merupakan ibukota Keresidenan Riau. Pada tanggal 23 Mei 1863, Belanda mengirim surat dengan mengultimatum Asahan dan Serdang. Tetapi ultimatum itu ditolak mentah-mentah.

Dengan Beslit Gubernemen no.1/25 Agustus 1865 dipersiapkanlah oleh Belanda ekspedisi militer untuk menyerang Asahan, Serdang, Tamiang dan Batubara yang membangkang terhadap Belanda. Komando Darat Ekspedisi ini dipimpin oleh Willem Ertwin Fredrick van Heemskerck (Photo Inzet) dan komando Mandala Gugus Tugasnya adalah Letnan Laut P.A. van Ress. Pasukan yang diberangkat dari Batavia tanggal 20 Agustus 1865 ini terdiri atas setengah batalyon infantri dengan staf, satu detasemen artileri terdiri dari 1 opsir dan 25 serdadu, diperkuat dengan 2 buah meriam besar dan 2 buah mortir, 2 opsir kesehatan dengan personil hospital kesemuanya berjumlah 379 orang militer Belanda dan 227 orang militer bumiputera. Sedangkan Angkatan Laut Belanda menerjunkan armada terdiri dari pasukan marinir sejumlah 1000 orang dengan kapal - kapal perang Djambi, Sindoro, Amsterdam, Montrado, Delfzijl dan Dasson dengan kekuatan 49 pucuk meriam. Agar Inggris tidak tersinggung dan campur tangan, maka Belanda juga mengirimkan surat pemberitahuan kepada Gubernur Inggris di Penang. Malaya dan Singapura.

Pada tanggal 12 September 1865, Ekspedisi sampai di Batubara, tanggal 18 September sampai di Bagan Asahan, tanggal 30 September sampai di Serdang dan tanggal 8 Oktober di Pulau Kampai - tempat markas orang-orang Aceh. Sultan Langkat: Sultan Basaruddin dipaksa oleh Belanda untuk menandatangani perjanjian takluk dan sebagai hukaman jajahan kesultanan Serdang; Percut, Padang, Bedagai dan Denai diambil Belanda dan lalu diserahkan kepada Deli.

Pembukaan Hutan Primer Deli

Pembukaan Hutan primer  tahun 1905

Tak Berapa lama, akhirnya J.Nienhuys mendapat titik terang. Rotterdam menyetujui Nienhuys untuk melanjutkan penanaman tembakau di Deli.
Sejak saat itu mulailah dibuka perkebunan-perkebunan tembakau di Martubung, Sunggal tahun 1869, Sungai Beras & Klumpang (1875).
Gambar ini memperlihatkan pembukaan hutan primer di Deli pada tahun 1905.
Penanaman tembakau makin menguntungkan sehingga dalam tahun 1872 saja sudah mencapai keuntungan Fl.1.000.000 (Satu Juta Gulden).

Awal Penanaman Gagal

Tuan J.Nienhuys

Tujuan utama  pada waktu itu Tuan J.Nienhuys dan kawan-kawan adalah untuk menyelidiki kemungkinan serta prospektif lainnya mengenai penanaman tembakau di Deli, sebagai tindak lanjut informasi yang disampaikan oleh Tuan Abdullah.
Usaha penanaman tembakau ini pada awalnya gagal dan mengalami kerugian cukup besar. Kemudian tim ekspedisi membuat laporan awal yang menyatakan bahwa “Deli adalah dataran rendah yang berawa-rawa yang sebagian ditutupi hutan-hutan primer yang tidak dapat dijelajahi oleh manusia dan orang-orang pribumi yang tinggal di tepi-tepi sungai membiarkan hutan-hutannya didiami oleh monyet, badak harimau, buaya dan binatang buas lainnya serta penyakit malaria".
Mendengar laporan ini maka Firma J. F van Leeuwen menarik diri dari dalam usaha penanaman tembakau di Deli. Hampir semua anggota ekspedisi pulang kembali ke Jawa, tetapi J. Nienhuys merasa yakin usahanya akan berhasil, ia meneruskan usahanya dan meminta bantuan biaya dari Tuan P. van Den Arend.

Awal Mula Tembakau Deli

Daun Tembakau Deli Yang Tersohor
Pada tahun 1863, Ipar Sultan Deli, Sultan Mahmud Perkasa Alam Deli yaitu Said Abdullah Bilsagih (Seorang Arab Surabaya) mengajak beberapa temannya pedagang Belanda yang ada di Jawa untuk menanam tembakau di Deli.
Pada tanggal 7 Juli 1863, Datanglah Tuan J.Neinhuys, Van Der Falk dan Elliot ke Kuala Deli dengan Kapal Josephine dari Firma Van Leeuwen en Mainz & Co.
Sultan Mahmud memberikan kepada mereka tanah dekat Labuhan (Tanjung Sepassai) secara erfpacht 20 tahun. Walaupun mengalami berbagai kesulitan, dengan ketabahan Neinhuys ternyata tembakau Deli yang dikirim ke Rotterdam pada bulan Maret 1864 memberikan titik terang. Tembakau Deli sangat baik sebagai pembalut cerutu, Hoppig en god branded dekblad.

Translate