Kamis, 26 Februari 2015

1874 Mesjid Gang Bengkok (Oude Missijit)





Oude Missigit (Mesjid Bengkok)
Mesjid gang bengkok didirikan oleh seorang Mayor cina Tjong A-Fie sebagai penghormatan secara langsung kepada kesultanan deli. Dengan di bangunnya mesjid ini yang tanahnya diwakafkan oleh Datuk Kesawan (H. Mohammad Ali). Setelah selesai, kepengurusan mesjid pun di berikan kepada Sultan Deli Makmun Al Rasyid yang kemudian ditabalkan pada tanggal 19 Juli 1874.

Dari segi arsitekturnya mesjid ini mempunyai keistimewaan di bandingkan dengan mesjid-mesjid lainnya sebab memakai perpaduan arsitektur Cina, Persia, Romawi dan ditambahkan ornament Melayu. Namun, dari awal pembuatannya hingga saat ini ada satu hal yang tidak di miliki mesjid lainnya yang selalu memakai ornament kaligrafi, mesjid ini tidak terdapat sedikit pun ornament kaligrafi di bagian luar maupun dalam mesjid. Tetapi hal itu tidak menjadi masalah, namun yang harus menjadi apresiasi adalah perpaduan arsitektur itu yang melambangkan adanya interaksi antar kebudayaan terjadi di sana dengan damai. 

Jika dilihat sekilas memang seakan bukan bangunan mesjid karena mirip klentèng, tempat ibadah umat Khonghucu. Atapnya melengkung dan terdapat empat tiang setebal setengah meter yang menopang seluruh bangunan. Semuanya akan berubah ketika memasuki bagian dalamnya yang terdapat mimbar berbentuk bangunan tinggi terbuat dari kayu yang mempunyai tangga undakan bertingkat sebanyak 13 yang digunakan sebagai tempat khotbah sebelum sholat jum’at.

Bukan hanya mimbar, namun ada satu benda yang unik di mesjid ini yang tidak ada di mesjid lain pada era modern saat ini, dimana tedapat mimbar bilal adzan yang berkaki empat dengan panjang 2,10 meter dan lebar 1,90 meter serta tinggi 2,20 meter yang fungsi nya agar suara adzan lebih terdengar jika seorang yang mengumandangkannya dari tempat lebih tinggi. Karena saat pembangunan nya belum memakai alat pengeras suara seperti mikropon. Benda-benda itu lah yang menjadi salah satu simpanan sejarah yang masih ada sampai sekarang.

Dalam bagian utama mesjid yang berukuran 18x18 ini terdapat empat tiang penyangga dengan diameter lingkaran 2,10 dan uniknya tiang seperti ini juga terdapat di istana Tjong A Fie yang terletak di Jalan A. Yani daerah kesawan juga yang berada tidak jauh dari mesjid Lama Gang Bengkok. Oleh karena itu diperkirakan pula bahwa arsitek yang membangun Istana Tjong A, Afie, juga merupakan arsitek yang juga membangun mesjid Lama Gang Bengkok. Ruangan asli pada bagian luar dilengkapi dan di topang 16 tiang segi empat dengan lebar sisi lebih kuang 50 cm dengan tinggi 5 meter. Namun karena termakan usia hanya tiang ini lah yang masih merupakan konstruksi bangunan yang asli pada bagian dalam, sebelumnya menurut perkataan kenaziran sekarang ini, kerangka atab semuanya menggunakan kayu tetapi karena kayu mulai lapuk dan sempat ada yang roboh. Maka diganti lah kerangka atap dengan alumunium.

Tidak hanya bagian konstruksi saja, yang mengalami perbaikkan. Dinding mesjid ini pun sudah mengalami perubahan yang sangat telihat jelas. Namun pada bagian dinding atas terdapat suatu ornament bangunan yang dijaga ke asliannya sampai sekarang.

Pada bagian luar mesjid ini sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan aslinya. Perluasan ini dilakukan karena daya tampung jama’ah masjid yang memiliki bangunan utama hanya berukuran 18x18 meter ini tidak mampu menampung semakin ramainya umat muslim di sekitar kesawan. Walaupun begitu masih ada bagian asli dari bangunan ini yang tidak di hilangkan pada bagian luar, yaitu ornament lebah bergantung yang merupakan cirri khas melayu.

Satu lagi keunikkan mesjid ini adalah memiliki sumur tua yang menurut penjelasan kenaziran, air di dalamnya tidak pernah surut walaupun musim kemarau. Sumur ini lah yang digunakan para jama’ah sholat untuk ber wudhu. Berdiameter sekitar 2 meter dan terletak di bagian kamar mandi wanita.

Kenaziran ataupun kepengurusan mesjid Lama Gang Bengkok dimulai oleh seorang bernama Syekh Mohd. Yacub, yang merupakan seorang ulama Mandailing bermarga Nasution berasal dari Roburan Lombang dan tinggal di jalan mesjid sejak 24 november 1885, ialah yang mendapatkan tauliyah atau kepercayaan untuk menjadi nazir yang mengurus mesjid dari Sultan Makmun Arrasyid dan menetapkan iman Rawatib pada tanggal 30 november 1894.

Karena perpindahan Syekh Mohd. Yacub ke jalan Tilak Medan, Imam rawatib diwakilkan kepada menantunya yang bernama H. Usman Tanjung selama 1910 sampai denan 1938 yang juga bertempat itinggal di daerah kesawan. Namun karena ia hanya mewakilkan saja, tidak lama di gantikan oleh anak dari Syekh Mohd. Yacub yang bernama Abubakar Yacub yang telah belajar mendalami agama islam.

Kenaziran mesjid bengkok sampai saat ini masih terus aktif untuk mengurus mesjid bersejarah ini, yang pada saat ini kenaziran di ketuai oleh Bapak H. Saifudin Nasution, SH. Bahkan kenaziran ini memiliki perpustakaan yang membantu orang-orang untuk menambah wawasan tentang agama maupun ingin tau tentang masa lalu mesjid ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Translate