Selasa, 03 Maret 2015

1903 Gerard Schaap Residen Sumatra van Ooskust

Gerard Schaap
Residen Sumatra van Oostkust
Kasus brosur De Millioenen uit Deli sangat menampar keras Pemerintahan Hindia Belanda pada akhir tahun 1903. Hal ini segera diambil tindakan dengan mengantikan posisi P.J. Kooreman sebagai Residen dengan Gerard Schaap

Gerard Schaap lahir di Muntok (Banka) pada tanggal 23 Januari 1854 dan menikah di Den Haag pada tanggal 9 November 1893 dengan Cornelia Elisabeth van Bloemen Waanders. Gerard adalah seorang Oost Indisch ambtenaar di Sumatra van Oostkust. 

Tugas pertama Schaap sebagai Residen adalah pada tanggal 28 Februari 1903, Untuk mengangkat Martabat Raja Moeda sebagai Kepala Suku di Panei maka ditandatanganilah perjanjian tambahan (Suppletoir Contract) kepada Pemerintah Hinda Belanda. Schaap mengatasnamakan Pemerintah Hindia Belanda dan Kesultanan Panei diatasnamakan oleh Tongkoe Bandahara,  Sutan Mangindar Alam, Pangeran Panei, dan Datoek Kelana Poetra, Datoek Orang kaya Muda, Datoek Orang Kaya Panei dan Datoek Wan Bongsoe. Dan Akten Van Verband en van Bevestiging untuk Sutan Bidar Alam Syah sebagai Raja Bilah yang ditandatangin 14 Januari 1904 di Medan.




1902 Kooreman dan De Millioenen uit Deli

Registerasi Kuli Cina di Deli
Akhir tahun 1902, Johannes van den Brand seorang Advokat dan Editor untuk De Sumatra Post mengeluarkan brosur dengan judul "De Millioenen uit Deli" yang artinya berjuta-juta dari Deli, Brosur itu menyulut pembicaraan berkepanjangan, bahkan kehebohan. Dimana-mana terutama di Belanda, Medan dan Eropa. Brosur yang berisikan kekejaman para tuan kebun di Sumatra Timur itu membuat gempar.

Dari buku Berjuta-juta dari Deli: satoe hikajat koeli contract, p.220 - begitu kental cerita beberapa orang anggota di Deli Planters Vereenging (DPV) pada pertengahan 1903 membicarakan tentang Brand dan De Millioenen uit Deli nya.

Yang banyak diserang dan menjadi bahan pembicaraan di parlemen Belanda pada masa itu karena brosur Brand adalah A.W.F Idenburg - Menteri daerah Koloni yang baru diangkat tahun 1902 dan T.J.Cremer - tuan kebun yang menjadi politisi. Selain itu adalah Residen P.J.Kooreman. Kebobrokan kepemimpinannya sebagai residen secara telanjang dijabarkan oleh Brand. Dia dituduh telah membiarkan perbudakan terjadi disemua perkebunan di Sumatra Timur.

Untuk mengklarifikasi hal ini, Kooreman pun berpidato pada tanggal 22 Desember 1902 di Medan dan disiarkan secara terperinci disurat kabat Deli Courant edisi 9 Februari 1903. Dalam pidatonya tersebut Kooreman menyatakan bahwa brosur itu sebuah kebohongan, dan menyatakan bahwa Brand seorang tukang fitnah, karena selama dia menjabat, tidak pernah ada laporan tentang kekerasan dan kebiadaban di lingkungan perkebunan. Malah ordonasi kuli bukanlah membuat kuli terikat melainkan mencegah mereka untuk membatalkan kontrak. Kondisinya malah menguntungkan para kuli, kuli-kuli boleh berkeluh kesah dan segera kami tindak lanjuti. 

Dalam pidatonya ini banyak sekali yang Kooreman kaburkan. Brand dengan sangat keras membantahnya, sepeti tidak adanya perempuan yang disalib kata Kooreman, Brand mengatakan hal itu benar - benar terjadi di Perkebunan Sempali mili Deli Maatschappij. 

Surat edaran Assisten Residen Medan E.K.M Kuhr pada tanggal 5 Juni 1899 itu adalah bukti 30 tahun lamanya kengeriaan itu benar-benar terjadi di Deli.

Bagi Cremer hal ini tidak membuatnya pusing. Dia menjadi kaya raya akibat dari kuli ordonasi yang pernah dia cetuskan. Bahkan dia tidak pernah tersentuh oleh hukum. Pada tahun 1897 sebagai Menteri Koloni termasuk dalam kabinet liberal progresif Pierson Goeman Borgesiuslaan (27 Juli 1897 -1 Agustus 1901).

Senin, 02 Maret 2015

1903 Jalur DSM Stasiun Bamban - Rantau Laban (Tebing Tinggi)

Stasiun Tebing Tinggi
Pada tanggal 2 Maret 1903, Dirsmikannya Stasiun Rantau Laban (Tebing Tinggi) dengan jarak 81 Km dari Stasiun Medan. Jalur Bamban-Rantau Laban  dengan jarak 10680KM mendapat akte konsesi No. 24, tgl 20 Sep 1901. 

1902 Jalur DSM Selesai - Kuala

Jalur DSM Binjei - Kwala
Setelah selesai jalur Binjei ke Selesai pada tahun 1890, maka selanjutnya adalah stasiun Padang Tjermin dengan jarak 16 Km dari Binjai dan berakhir di Stasiun Kwala dengan jarak 21 Km dari Binjai.

Jalur Selesai ke Kuala ini sesuai dengan akte No. 33, tgl 11 Aug 1901 dengan jarak 9943 Km. Jalur ini dibangun tanggal 5 November 1902. Pembangunan jalur ini untuk mempermudah angkutan hasil perkebunan, terutama hasil tembakau, sawit, karet di sekitar langkat selatan.

Jalur ini di tutup sekitar tahun 2002, beberapa faktor yang membuat jalur ini di tutup adalah runtuhnya jembatan Kereta api sei bingei akibat banjir besar pada tahun 2002 dan ditutup nya seluruh halte dan stasiun di lintas ini. Sebelum ditutup, jalur ini sempat di kabarkan akan di fungsikan kembali sehubungan sebuah perusahaan semen asal meksiko berencana membangun pabrik di lintas ini dan menggunakan KA sebagai alat angkut nya, tapi seiring berjalan waktu, pihak perusahaan semen batal membangun pabrik nya dan akhir nya jalur ini di tutup total. 
http://id.wikipedia.org/

Jumat, 27 Februari 2015

1902 Jalur DSM Perbaungan - Bamban

Stasiun Bamban
Jalur Kereta Api Medan ke Teluk Nibung terus dalam pengerjaan. Setelah diresmikannya pada tahun 1890 Stasiun Perbaungan yang berjarak 38 Km dari Medan, kini dilanjutkan menuju Stasiun Bamban.
Pada tanggal 11 April 1902 dirsmikanlah Stasiun Bamban, Konsesi yang dikeluarkan No. 02, tanggal 12 Februari 1900. Dari perbangunan ke Bamban melalui: Pasar Bengkel (44Km), Lidah Tanah (45Km), Bulu (51Km), Teluk Mengkudu (55Km), Rampah (63) dan Bamban  yang jaraknya 69Km dari Medan.

Translate