Kamis, 24 Januari 2013

Perang Sunggal 1872

Dato' Sunggal
Karena Keuntungan yang sangat menjanjikan dari perkebunan tembakau, maka berdatanganlah maskapai - maskapai dan para kapitalis asing meminta tanah kepada Sultan Deli, sehingga akhirnya tidak ada lagi tanah yang dapat diberikan kepada pada penduduk asli pada masa itu. Sultan Mahmud selalu dengan gampangnya memberikan tanah kepada maskapai-maskapai kolonialis . 

Keserakahan maskapai-maskapai perkebunan Belanda inilah membuat masyarakat Sunggal menentang perluasan perkebunan Belanda serta mengancam Kesultanan Deli. Kepala di Timbang Langkat, SULONG BARAT (anak dari DATO' JALIL adik dari Dato' KECIL, Paman dari Dato' Sunggal: BADIUZZAMAN SRI DIRAJA) mengumpulkan pasukan untuk mengancam Kesultanan Deli. 

Melihat pergolakan yang dilakukan oleh Sulong Barat, Atas nama Sultan Deli, Belanda pun mengirim Ekspedisi Militer I dibawah Kapten Koops dari Riau. Berkat bantuan dari Gayo dan Senembah, Sunggal berhasil mengalahkan Belanda dan membakar perkebunan di Sunggal dan medan sekitarnya.

Tak cukup saja dengan itu, Pada tanggal 10 Juli 1872 Belanda pun mendatangkan kembali Ekspedisi militer II nya dengan persenjataan yang lebih berat dan modern dibawah pimpinan Letkol. P.F. Van Hombracht dari Batavia (Jakarta). Tetapi walaupun perang ini begitu sengit, rakyat Sunggal dapat mematahkan serangan Belanda. 

Pada tanggal 20 September 1872 didatangkanlah kembali Ekspedisi Militer III dibawah pimpinan Mayor H.W.C. Van Stuwe dari Batavia (Jakarta). Pada Tanggal 24 Oktober 1872, Dato’ Sunggal Badiuzzaman Sri Diraja beserta pamannya Dato’ Kecil ditangkap, karena dikhianati ketika mengadakan perundingan dengan Belanda. Dato’ Sunggal, melalui Kerapatan Besar Deli, dibuang ke Jawa seumur hidup pada tahun 1895. Dua diantaranya yakni Datuk Badiuzzaman Surbakti dan adiknya, Datuk Alang Muhammad Bahar. Masing-masing dibuang ke Cianjur dan Banyumas.

Makan Datuk Badiuzzaman Surbakti dan Datuk Alang Muhammad Bahar
Saat ini bukti kedua orang Melayu dari Kedatukan Sunggal yang dibuang ke Cianjur dan Banyumas itu makamnya dikenal dengan sebutan Makam Istana Deli, dan kedua makam itu dihormati oleh penduduk setempat.

0 komentar:

Posting Komentar

Translate