Jumat, 13 Februari 2015

1893 - 1896 Ekspedisi Tamiang

Ekspedisi Tamiang 1893
Pada tanggal 16 Februari 1893, Belanda melakukan penyerangan secara besar-besaran dengan senjata lengkap seperti Senapan dan Meriam ke Tanjung Mulia (Pangkal Timbang ) letaknya tidak jauh dari Seruway. Tentara Belanda terus berdatangan menuju Bendahara. Penyerangan di lakukan mulai subuh. Dari penyerangan ini Belanda berhasil menaklukan benteng rakyat yang di pimpin oleh Dt. Tanjung. Tempat kediaman Raja Bendahara di taklukan oleh Belanda, secara umum Belanda telah menaklukan Bendahara. Setelah menguburkan tentara Belanda di Perkuburan Arun Gajah ( Seruway) atas agresi yg mereka lakukan di Bendahara. Mereka kembali ke Labuhan melalui Salah Haji. Rakyat memasang ranjau di seluruh alur sungai untuk mengantisipasi penyerangan Belanda.

Kapal perang Belanda di Seruway 1893
Tugu Tamiang di Lap. Eksplanade
Tanggal 29 Maret 1893 Belanda mengirimkan tentaranya dari Medan menuju Seruway yang terdiri dari 8 Opsir serta 200 Serdadu dengan 2 unit Meriam Gunung. Puluhan serdadu Angkatan Laut Berbangsa Belanda & Satu divisi pendaratan terdiri atas 120 Org Serdadu. Ekspedisi ini di pimpin oleh Kolonel A.H.V.D. Pol. Dalam Perang Kolonial di Tamiang, Perang Lubuk Batil dan Tumpuk Tengoh ini menjadi sebuah catatan sejarah sebagai salah satu perang terdasyat, karena banyak memakan korban Jiwa di kedua belah pihak. Di pihak tentara Belanda yang Gugur,antara lain: Pos Komando seruway Let V/d Schroef, Pasukan AL Let. Mensert,Let. Zelman & Let. Engelen dan 128 serdadu dengan para Offisieren. Untuk Mengenang Peperangan ini Belanda Mendirikan Tugu Perlawanan Tamiang, tepat di depan Stasiun Kereta Api di Medan ( Jantung Kota Medan). Di Pihak Raja Tamiang Panglima Perang & sebanyak 60 orang Laskar Gugur termasuk, Panglima Perang Raja Banta Achmad Tewas dalam Peperangan ( Syahid). Beliau di makamkan ditanah tinggi di kampong hilir sungai Iyu). Setelah melihat kekuatan dari Pihak Belanda, pada Tahun 1893, Perlawanan Bendahara & Kejuruan Muda melemah,maka Raja Maan dari Kejuruan Muda menemui Controleur Sieberg di Seruway melalui T Sulung Laut Sultan Muda Indera Kesuma.

Setelah benteng terakhir di Lubuk Batil & Tumpuk Tengoh dihancurkan oleh Belanda, maka takluklah Kerajaan Bendahara di Tamiang pada tanggal 2 April 1893 bertepatan dgn 16 Ramadhan 1315 H. Raja Maan pun dari Kejuruan Muda ikut menyerah kepada Belanda yang disampaikan oleh Raja Sulung yang sudah duluan menyerah kepada Belanda.
T. Raja Silang

Mendengar hal ini, Kerajaan Karang yang dipimpin oleh Raja Ben Raja & Putranya T.Raja Silang menjadi Murka. Mereka pun mengadakan musyawarah di Meunasah Alur Bemban yang juga dihadiri oleh Panglima T.Mamat dari Aceh. Keputusannya sebagai berikut:
  1. Raja Maan harus di Beri Ganjaran.
  2. Perang Tamiang Melawan Belanda di Pimpin Oleh T.Raja Silang.
  3. Mulai dari Alur Bemban menyelusuri kanan mudik Sungai Tamiang di tempatkan benteng – benteng Perlawanan Rakyat di Bawah Pimpinan Panglima Perang masing – masing.
  4. Setiap Kapal Sekoci milik Belanda Harus di Musnahkan.
Kontroleur Sieberg dari Seruway mengutus Raja Maan untuk mengadakan perundingan ke Kerajaan Karang. Raja Maan yang didampingin oleh Dt.Hakim, Dt.Tandil dan Raja Hitam yg merupakan adik kandung dari Raja Maan sendiri.
Ketika rombongan ini berada di atas sungai kampung air tenang, Panglima Badal - salah satu Panglima dari Nyak Mamat dengan rasa dendam yang berkepanjangan memerintahkan anak buahnya untuk menembakin perahu Raja Maan. Walhasil Raja Maan, Dt Hakim & Raja Hitam tewas dalam Insiden tersebut.

Atas sikap yang tidak kesatria dari Panglima Badal, T.Raja Silang merasa sangat kecewa & meminta Panglima T.Nyak Mamat meninggalkan Tamiang. Atas insiden tersebut Belanda Tidak Mengakui Lagi Kekuasaan Raja Ben Raja & Raja Silang serta keluarganya tidak memiliki hak lagi atas Kerajaan Karang.

T.Raja Silang tidak Peduli terhadap keputusan Belanda tersebut yang tidak mengakui Kekuasaanya. Ia pun menyerahkan kekuasaannya sebagai kepala pemerintahan kepada Kejuruan Tandil. Seorang saudagar bangsawan asal Serdang.

Lalu ia mengundang Raja Nyak Mud dari Tanjung Mancang Ke Paya Awee. Mereka membicarakan tentang kematian Raja Maan. Mereka pun bersepakat untuk meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Pada saat itu pun Raja Nyak Mud di beri pangkat Raja Muda Negeri Tamiang Hulu (Kejuruan Muda) yang berpusat di Tanjung Mancang. meneruskan Pemerintahan Kejuruan Muda dan berdampingan dengan Kaum Pejuang. Sementara itu di pihak Belanda, Raja Husin diangkat menjadi Mangku Raja Kejuruan Muda di Seruway.

Perlawanan terus terjadi, pada tanggal 19 Juli 1893 Tanjung Sementok di serang dan dibinasakan, Kontrolir Sieberg mengirimkan utusannya kepada Raja Ben Raja untuk bersedia melakukan perundingan di Seruway. Pada tanggal 12 Agustus 1893 Raja Ben Raja mengadakan Musyawarah dengan Para Datuk & Panglimanya atas undangan tersebut. Keputusan dari musyawarah itu bahwa Raja Ben Raja  tidak mau menghadiri perundingan tersebut. Raja Ben Raja pun memerintahkan  panglimanya untuk berjaga-jaga mulai dari Alur Bemban menyelusuri kanan mudik Sungai Tamiang hingga Air Tenang dan memerintahkan menembak setiap sekoci Belanda yang melewati daerah tersebut.

Pada tgl 23 Agustus 1893 Raja Silang mengadakan musyawarah di alur bemban bersama Panglima Cut mamat dari Perlak yang mana keputusan adalah tetap meneruskan perlawanan dan menghukum Raja Maan yang telah menyerah ke Seruway.
Tgl 27 Agustus 1893 Kontrolir Sieberg mengutus seseorang ke Air Tenang untuk menemui Raja Ben Radja & Raja Silang. Pihak Belanda mengerahkan segala kekuatan untuk dapat membendung perlawanan T.Raja Silang, tetapi selalu gagal. Penyerangan dan patroli setiap hari di lakukan Oleh Belanda.

Pada tanggal 23 September 1893 dengan kekuatan yang cukup besar, Militer Belanda Menyerang benteng pertahanan Raja Silang di Paya Kelubi. Dalam insiden ini gugurlah mertua Raja Silang beserta laskar-laskar Lainnya.

Pada Tanggal 13 Oktober 1893, Raja Silang mengutus Panglima Perak menemui Raja Nyak Mud di Tanjung Mancang. Karena telah tersebar kabar kepada Raja Silang bahwasannya telah terjalin hubungan secara tersembunyi antara Raja Nyak Mud dengan Raja Husin Mangku Raja Kejuruan Muda di Seruway. Pada saat itu terjadilah perdebatan yang panjang hingga menewaskan Panglima Perak. Kejadian ini mengakibatkan putusnya hubungan antara Raja Nyak Mud dengan T.Raja Silang yg telah di ikrarkan di Paya Awe.

Bulan November 1893, datanglah bantuan Belanda yang di bawa oleh Raja Husin dan T.Sulung Laut dari Seruway ke Tanjung Mancang yang menemui Raja Nyak Mud yang secara kebetulan dalam keadaan terancam dari pihak Pejuang. Raja Umar, adik dari Raja Silang beserta anak buahnya menyerang Tanjung Mancang, Tetapi dapat di pukul mundur oleh T.Nyak Mud & Anak Buahnya. Selang beberapa hari kemudian, Raja Nyak Mud mengadakan serangan ke Sungai Kanan ke daerah pertahanan Raja Umar. Raja Umar melarikan diri ke Bukit Panjang. Akibatnya seluruh rumah penduduk di kampung Sungai Kanan di bakar oleh Pasukan Raja Nyak Mud.

Dalam pelariannya, Raja Umar tetap melakukan perlawanan. Salah satunya membumi hanguskan rumah penduduk yang menjadi pengikut Kejuruan Tandil yang telah di Angkat oleh Belanda Menjadi Raja Karang. Peristiwa Ini merupakan strategi Politik Adu Domba yang di lakukan Belanda untuk Menaklukan Tamiang.

Pada 9 November 1893 Tengku kejuruan Tandil di tetapkan oleh Residen van Sumatra Oostkust untuk mengurus Negeri Karang dan mengambil kekuasaan dari Raja Ben Raja. Dengan kekuatan 400 orang Prajuritnya, hampir setiap hari Raja Ben Raja bersama Raja Silang terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Pada tanggal 6 Desember 1893 Benteng Raja Silang di serang di Bukit Paja, dekat Manyak Payed . Dalam insiden ini putrinya TENGKU INTAN KEMALA PUTRI tertembak oleh serdadu Belanda. Sementara itu di pihak Belanda korban mencapai 24 Orang, dan sebahagian kecil melarikan diri. Pertempuran terus berlangsung, tepatnya pada tanggal 24 April 1894 dalam satu pertempuran di dekat Paja Awe, satu opsir & 20 anggotanya tewas sedangkan di pihak Laskar Raja Silang 10 orang jatuh meninggal dunia.

Dalam pertempuran tanggal 17 November 1894 di sekitar Paya Kelubi, Raja Ben Raja yang saat itu sudah sangat tua beserta Raja Umar terpaksa Menyerah & Mereka di bawa ke tempat kediaman Kontrolir di Seruway. Belanda pun ingin melakukan perundingan dengan T. Silang.

Tanggal 12 Desember 1894, tibalah di Bukit Mangga, rombongan T.Muda Cik Kejuruan Sungai Iyu  untuk mengadakan pertemuan dengan Raja Silang. Dalam pertemuan ini T. Muda menjamin T.Silang selama perundingan.

Setibanya di Seruway, Kontrolir Sieberg meminta supaya T.Raja Silang bersedia bekerja sama dengan Belanda. Jika ia menerima tawaran tersebut, maka kerajaan Karang akan di kembalikan kepadanya dan segera membebaskan ayahandanya Raja Ben Radja.

Istana Karang
Raja Silang menjawab sambil melirik kepada T.Muda  dan berkata: ”KAMI ORANG –ORANG PERJUANGAN ADALAH MERDEKA BAGAI BURUNG – BURUNG DI UDARA, OLEH KARENA ITU TIDAK MUNGKIN BISA KERJA SAMA DGN PEMERINTAHAN TUAN ( BELANDA ).

Pada tanggal 7 Febuari 1895 Belanda kembali menyerang Paya Kelubi dengan Kekuatan yang cukup besar. Benteng tersebut hanya di pertahankan oleh 20 orang laskar di bawah pimpinan Datuk Laksamana  dan Datuk Pang Jering. Datuk Pang Jering gugur dalam pertempuran tersebut beserta 15 orang anak buahnya. Datuk Laksamana mundur dan terus ke Lokop dengan Panglima Tapa dari Gayo. Untuk kesekian kalinya Raja Silang di Panggil oleh kontrolir Sieberg untuk Berunding. Raja Silang Menjawab dengan Tak Gentar: PERANG KAMI INI ADALAH PERANG SUCI, WALAUPUN BAGAIMANA DIPAKSA, DIHATI KAMI TETAP MEMUSUHI PENJAJAH (BELANDA).

Akhirnya, Raja Silang bersama Ayahandanya dan saudara-saudaranya di Buang ke Bengkalis ( Riau ) dengan dasar keputusan pemerintah Belanda tanggal 12 Oktober 1895 No.02 Dasar art 42.R.R. Dalam pembuangannya Raja Ben Raja pun meninggal dunia.

Meskipun Raja silang telah di buang, tetapi panglima bawahanya tetap melakukan perlawanan kepada Belanda. Pada Tanggal 22 Juli 1895 Dt.Panglima Amat di Marlempang mengadakan perlawanan. Setiap kapal yang lewat mereka serang. Beberapa awak kapal tersebut mati. Marlempang pun di serang Belanda. Panglima Husin & Imam tertangkap dan mereka pun menjalani hukuman selama 6 tahun di Batu Bara. Tanggal 16 & 17 Juni 1896 Panglima Kadhi & Panglima Udjud dengan kekuatan 60 Orang Anak buahnya,berhasil Membakar Istana Kuta Milik Tengku Kejuruan Tandil yang letaknya berhadapan dengan benteng Belanda di Kuala Simpang.


Pada tahun 1897 Laskar Tamiang yang telah bergabung dengan 20 Orang Gayo dan 120 Orang Aceh di bawah Kendali Panglima Tengku Tapa melakukan perlawanan. Terjadi baku tembak antara Opsir Belanda dengan Tengku Tapa disaat Belanda hendak menuju Manirang. Tapi sayang, Pasukan Tengku Tapa kalah, hingga ia harus mundur ke Batang Ara (Benteng Terakhir Raja silang yang ada di Batu Bedulang di Bawah Komando Dt Penghulu Rangai dengan Anak Buahnya yang Berasal dari Serawak). 

Untuk memperkuat Pertahanan Militer Belanda, maka perairan dan Sungai Tamiang di kawal secara terus menerus oleh sebuah kapal perang Belanda dan dipersenjatai sangat Lengkap Yang bernama ”WILHELMINA”. Sejak akhir tahun 1897, sudah tidak terdengar lagi serangan-serangan Laskar Tamiang karena kekuatan militer Belanda telah tersebar di mana-mana, tercatatlah perang tamiang di mulai sejak 27 Januari 1874 – 27 September 1896. Pada tahun 1901 atas permintaan rakyatnya, Raja Silang di bebaskan dari Tawanan Belanda.

0 komentar:

Posting Komentar

Translate