Selasa, 24 Februari 2015

1898 Pacuan Kuda dan Sengketa Mangaraja Tagor

Kuda Batak pony dan kereta 1898
Kalau sekarang kita selalu melihat Pacuan Kuda berada di Lapangan WTC Tuntungan , Deli Serdang, sebenarnya pada tahun 1898, Medan sudah memiliki Race Baan (Trek Balap) untuk pacuan kuda. Lokasinya berada disebelah kanan dari lapangan Esplanade.  

Race Baan 1898
Disini setiap 2 kali setahun diadakan perlombaan pacuan kuda. Karena wilayah ini merupakan lapangan yang besar, dan banyak didiami oleh masyarakat Melayu, sehingga banyak masyarakat banyak berdatangan juga ke sini untuk membawa kuda-kuda mereka. 

Para Anggota Organisasi Pacuan Kuda merasa terganggu akan hal ini, Mereka takut kuda-kuda mereka tertular panyakit oleh kuda-kuda pribumi.

Hal ini menjadi membesar ketika Sultan Deli sendiri tidak peduli dengan nasib rakyatnya. Keuntungan yang banyak dari para pengusaha membuat sultan tidak pernah memikirkan kepentingan rakyat. Sultan lebih mementingkan keuntungan pribadi dari pada memikirkan rakyat. Keuntungan yang diberikan membuat Sultan tidak pernah membela rakyatnya. Bahkan rakyatnya dikorbankan untuk mendapatkan pengakuan para pengusaha. 

Dari buku Berjuta-juta dari Deli:Satoe hikajat koeli contract karya Emil W. Aulia mengangkat perselisihan ini. Suatu ketika masyarakat pribumi yang diwakili oleh Mangaraja Tagor mendatangi seorang advokat berbangsa Belanda yang bersifat independent. Dia adalah Mr. J. Van den Brand. Mangaraja dan teman-temannya dipaksa Sultan dan kroninya untuk pindah dari rumah dan tanahnya. Tanpa ada ganti rugi sedikitpun kepada meraka. Hal ini membuat Van den Brand mendidih. Dia langsung bereaksi untuk membela Mangaraja Tagor dan kawan-kawannya dengan mengangkat cerita mereka ini ke pemerintahan Hindia Belanda.

Pacuan Kuda 1898

0 komentar:

Posting Komentar

Translate